Tepat Pukul 11.31 WIB, Trump Kembali Jatuhkan Sanksi ke Iran
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) kembali memberlakukan sanksi sepihak terhadap Iran, Selasa (7/8/2018) dini hari waktu setempat atau Selasa siang WIB.
Sanksi diberlakukan dalam dua putaran, pertama mulai Selasa pukul 00.01 waktu setempat atau 11.31 WIB, menargetkan bank dan industri utama AS, termasuk mobil dan karpet.
Iran sudah mengalami efeknya sejak Trump mengumumkan AS menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 pada Mei lalu, padahal sanksi belum dijatuhkan. Mata uang rial kehilangan sekitar setengah nilainya.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan, negara lain yang turut dalam kesepakatan 2015, yakni Inggris, Prancis, dan Jerman, sangat menyesalkan langkah AS.
Tolak Tawaran Bertemu Trump, Iran: Kami Bukan Korea Utara
"Kami bertekad melindungi para pelaku ekonomi Eropa yang terlibat dalam bisnis yang sah dengan Iran," kata Mogherini, dalam sebuah pernyataan.
Banyak perusahaan besar Eropa meninggalkan Iran karena takut akan sanksi AS. Trump juga memperingatkan konsekuensi berat terhadap perusahaan dan individu yang terus melakukan bisnis dengan Iran.
Jenderal Iran: Jika Trump Memulai Perang, Kami Akan Mengakhirinya
Trump menyatakan terbuka mencapai kesepakatan yang lebih komprehensif dengan Iran. Namun Presiden Iran Hassan Rouhani menolak tawaran negosiasi.
"Jika Anda seorang musuh dan Anda menusuk orang lain dengan pisau, dan kemudian Anda mengatakan Anda ingin bernegosiasi, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membuang pisau itu," kata Rouhani.
Donald Trump ke Presiden Iran: Jangan Pernah Lagi Mengancam AS
"Mereka ingin memulai perang psikologis melawan bangsa Iran. Negosiasi dengan sanksi tidak masuk akal," ujarnya, menambahkan.
Sementara itu sanksi kedua mulai berlaku pada 5 November, yakni memblokir penjualan minyak Iran. Sanksi ini akan lebih memukul Iran, meskipun beberapa negara, seperti China, India, dan Turki menolak mengurangi pembelian.
Presiden Iran: Trump Jangan Main-Main dengan 'Ekor Singa'
Editor: Nathania Riris Michico