Terlibat Perdagangan Manusia, Pasangan India Dibui di Singapura

Nathania Riris Michico ยท Rabu, 12 Februari 2020 - 17:34 WIB
Terlibat Perdagangan Manusia, Pasangan India Dibui di Singapura

Ilustrasi korban perdagangan manusia. (FOTO: Manan VATSYAYANA / AFP)

KUALA LUMPUR, iNews.id - Sepasang warga India dijatuhi hukuman penjara lebih dari lima tahun di Singapura, Selasa (11/2/2020). Mereka dihukum karena mengeksploitasi sejumlah perempuan imigran.

Hukuman atas perdagangan manusia itu merupakan yang pertama kalinya dijatuhkan di negara makmur itu, yang ditinggali oleh banyak pekerja asing.

Dilaporkan Antara, Rabu (12/2/2020), pasangan warga negara India itu masing-masing diberi hukuman penjara lima tahun enam bulan setelah mereka terbukti bersalah mengeksploitasi tiga perempuan Bangladesh yang mereka rekrut untuk melakukan tarian di berbagai kelab malam, yang dikelola pasangan itu di Singapura.

Pasangan itu juga diharuskan membayar denda, sementara pria pemilik tempat-tempat hiburan malam itu diperintah pengadilan membayar gaji yang belum dibayarkan sebesar hampir 5.000 dolar Singapura (sekitar Rp68 juta).

"Keduanya ingin mengajukan banding atas hukuman dan vonis yang dijatuhkan terhadap mereka. Mereka bebas dengan uang jaminan," kata juru bicara Kementerian Tenaga Kerja Singapura, kepada Thomson Reuters Foundation melalui surat elektronik.

Negara di Asia Tenggara itu, yang berpenduduk 5,6 juta jiwa, bergantung pada satu juta pekerja imigran dari negara-negara seperti Indonesia, China, dan Myanmar untuk memperkuat perekonomian mereka.

Para imigran itu bekerja di berbagai sektor, mulai dari konstruksi hingga pabrik dan pekerjaan rumah tangga.

Kasus itu merupakan pertama kalinya terjadi sejak Singapura menerapkan undang-undang 2015 dalam upaya memerangi perdagangan manusia.

Kelompok-kelompok pembela hak pekerja menyatakan, para pekerja imigran adalah kalangan yang paling rapuh terkena perdagangan manusia.

Siapa pun yang melanggar undang-undang tersebut akan menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun, dicambuk, dan dikenai denda. Ada dua lagi kasus perdagangan manusia yang sedang diproses di pengadilan.

Menurut dokumen pengadilan, pasangan tersebut melakukan kekerasan verbal terhadap para perempuan itu, mengendalikan pergerakan serta menyita paspor mereka.

Pasangan itu juga dinyatakan bersalah memaksa salah satu dari perempuan itu melakukan pekerjaan seks.

Menurut jaksa, ketiga perempuan Bangladesh itu diharuskan bekerja setiap hari sementara pasangan tersebut tidak membayar gaji bulanan dua dari perempuan itu sebesar 60.000 taka (sekitar Rp9,6 juta)

Pemerintah memperingatkan para pengusaha bahwa pemerintah akan mengambil tindakan keras untuk mencegah perdagangan manusia.

Singapura ditempatkan pada tingkat "Tier 2" dalam Laporan Perdagangan Manusia Amerika Serikat (AS), sebab belum secara penuh memenuhi standar minimum terkait penghapusan perdagangan manusia.

Editor : Nathania Riris Michico