Ternyata, Makin Banyak Mahasiswa yang Jadi Gelandangan di Amerika

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 07 Februari 2020 - 07:05 WIB
Ternyata, Makin Banyak Mahasiswa yang Jadi Gelandangan di Amerika

Jumlah orang yang tak mampu membeli rumah meningkat karena berbagai faktor. (FOTO: GETTY IMAGES)

WASHINGTON, iNews.id - Jumlah mahasiswa Amerika Serikat yang menggelandang semakin banyak dalam 10 tahun terakhir, menurut sebuah penelitian. Sebanyak 1,5 juta pelajar tinggal bersama keluarga lain atau teman karena tak punya tempat tinggal.

Namun 7 persen hidup di gedung terlantar atau mobil, menurut laporan National Centre for Homeless Education.

Dilaporkan BBC, penyebab semakin besarnya jumlah ini bermacam-macam, antara lain pekerjaan yang tidak tetap, harga tempat tinggal yang terlalu mahal, kekerasan dalam rumah tangga, dan belakangan ini krisis obat penenang.

Hidup tanpa alamat yang jelas menyebabkan dampak buruk terhadap kesehatan dan pendidikan anak-anak usia pelajar ini.

Sekitar sepertiga dari pelajar ini tidak bisa membaca dengan baik, dan memiliki nilai yang buruk dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Menurut Direktur National Centre for Homeless Education kepada New York Times, data terakhir tercatat antara 2017 hingga 2018 dan jumlahnya lebih dari dua kali lipat dari jumlah yang dilaporkan pada 2004-2005, yaitu 680.000 pelajar yang menggelandang.

Riset yang mengukur jumlah pelajar yang menggelandang selama tahun ajaran ini tidak memperlihatkan data total populasi gelandangan di seluruh AS.

Kenapa meningkat?

Menjadi gelandangan merupakan masalah yang terus meningkat di Amerika terkait dengan meningkatnya krisis perumahan nasional.

Jutaan orang menghabiskan lebih dari setengah pemasukan mereka untuk perumahan dan banyak lagi yang melaporkan tak mampu membeli rumah.

Meningkatnya harga sewa dan kurangnya pasokan perumahan menybabkan ribuan orang di California tinggal di karavan dan perumahan yang tidak layak.

Perubahan ekonomi secara besar-besaran seperti tutupnya pabrik dan semakin besarnya pekerjaan borongan (outsourcing) serta kerja berdasar jam lewat aplikasi (gig economy) menyebabkan para orangtua tak mampu lagi membayar sewa rumah.

Selain itu, ada juga krisis obat penenang di mana hampir dua juta orang di AS, kecanduan obat penenang yang diresepkan dokter, yang juga menyebabkan keluarga terpecah dan pindahnya anak-anak dari rumah mereka.

Sejumlah besar gelandangan berusia pelajar ini adalah LGBT, menurut Williams Institute di University of California.

Hampir tujuh dari 10 orang menyatakan penolakan dari keluarga menjadi penyebab utama mereka meggelandang. Sebagian lagi menyatakan kekerasan yang dilakukan anggota keluarga menjadi pendorong mereka lari dari rumah.

Banyak ahli megatakan, pemecahan masalah ini adalah menyediakan perumahan dengan harga lebih terjangkau.

Selain itu, perlu juga menyediakan dukungan terhadap keluarga yang terkena dampak trauma atau ketergantungan obat.

Editor : Nathania Riris Michico