Trump Kian Agresif Jelang Pemilu, Perang Iran Jadi Senjata Kampanye?
Harga minyak bahkan kembali berada di sekitar level 100 dolar AS per barel pada awal Oktober. Kondisi tersebut membuat isu energi menjadi salah satu tema penting dalam persaingan kursi DPR dan Senat.
Trump berulang kali berusaha meyakinkan publik bahwa dampak perang terhadap harga hanya sementara. Dalam pernyataannya, dia mengklaim harga-harga kebutuhan telah turun dan harga minyak akan turun drastis setelah perang Iran berakhir.
Namun, isu tersebut justru menjadi tekanan politik bagi Partai Republik. Sejumlah kandidat Republik di daerah pemilihan yang ketat bahkan mendorong pemerintahan Trump agar perang Iran segera diakhiri karena khawatir dampaknya terhadap harga energi dan pemilih.
Di sisi lain, perang Iran juga telah menjadi persoalan langsung di Kongres. DPR AS dalam beberapa kesempatan menggelar pemungutan suara terkait upaya menghentikan operasi militer Trump di Iran, sementara Senat juga menghadapi perdebatan serupa.
Hasil pemilu 3 November karena itu akan menentukan komposisi DPR dan Senat sekaligus memengaruhi ruang politik Trump pada sisa masa jabatannya. Jika keseimbangan kekuasaan di Kongres berubah, kemampuan parlemen melakukan pengawasan terhadap pemerintahan dan kebijakan perang Trump juga dapat berubah.
Trump sendiri tetap menyatakan Partai Republik akan memperoleh hasil sangat baik. Namun, perkembangan harga energi, perang Iran, dan persoalan biaya hidup kini menjadi bagian penting dari pertarungan politik menjelang pemilu paruh waktu AS.
Editor: Anton Suhartono