Trump Puji Kamboja karena Mau Menerima Kapal Pesiar Westerdam yang Ditolak di 5 Negara

Anton Suhartono ยท Sabtu, 15 Februari 2020 - 13:33 WIB
Trump Puji Kamboja karena Mau Menerima Kapal Pesiar Westerdam yang Ditolak di 5 Negara

Kapal pesiar MS Westerdam merapat di pelabuhan Sihanoukville, Kamboja (Foto: AFP)

SIHANOUKVILLE, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi perhatian kepada kapal pesiar MS Westerdam yang sempat ditolak di lima negara terkait kekhawatiran penyebaran virus korona.

Westerdam merupakan kapal pesiar yang dioperasikan Holland America Line, unit dari Carnival Corp, perusahaan yang berbasis di Miami, Florida.

Trump berterima kasih kepada Kamboja karena mau menerima kehadiran Westerdam. Ini merupakan pesan sangat langka disampaikan seorang presiden AS kepada Kamboja, sekutu dekat China, di tengah hubungan kedua negara yang renggang.

Lima negara menolak Westerdam, di antaranya Jepang, Guam, dan Thailand, setelah kapal memulai pelayaran dari Hong Kong pada 1 Februari.

"Terima kasih kepada negara yang indah, Kamboja, karena menerima kapal @CarnivalCruise Westerdam ke pelabuhan Anda. Amerika Serikat akan mengingat kebaikan Anda," cuit Trump, seperti dilaporkan kembali Reuters, Sabtu (15/2/2020).

Westerdam merapat di pelabuhan Sihanoukville pada Kamis (13/2/2020) setelah ditolak di lima negara selama dua pekan. Sebanyak 1.455 penumpang dan 800 kru mulai turun pada Jumat untuk melanjutkan perjalanan pulang ke negara masing-masing.

Sebelum turun para penumpang menjalani pemeriksaan kesehatan dan hasilnya tak ada yang terinfeksi virus korona. Sebenarnya petugas kesehatan di kapal juga memeriksa penumpang dan kru secara rutin. Meski demikian lima negara itu tetap tak mau menerima kapal tersebut.

Hubungan Trump dan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen renggang terkait tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). AS juga mengecam tindak kekerasan penguasa terhadap kelompok oposisi Kamboja sejak 2017.

Di saat bersamaan, Hun Sen membawa Kamboja semakin mesra dengan China, negara yang telah menggelontorkan bantuan miliaran dolar AS dan pinjaman untuk proyek-proyek infrastruktur.


Editor : Anton Suhartono