Udara di New Delhi Beracun, Warga: Kami Sekarat!

Ahmad Islamy Jamil ยท Kamis, 26 November 2020 - 13:57:00 WIB
Udara di New Delhi Beracun, Warga: Kami Sekarat!
Penduduk berjalan di tengah kepungan asap dari tempat pembuangan sampah yang terbakar di daerah Ghazipur, New Delhi, India, Rabu (25/11/2020). (Foto-foto: Reuters)

NEW DELHI, iNews.id – keluarga yang tinggal di dekat tempat pembuangan sampah yang membara di sudut utara Ibu Kota India, New Delhi, telah menutup pintu dan jendela rumah mereka. Penyebabnya, kata mereka, udara di luar sangat beracun sehingga membuat mereka sbatuk sepanjang hari.

Menurut IQ AirVisual, sebuah kelompok berbasis di Swiss yang mengumpulkan data kualitas udara secara global, New Delhi memiliki udara terburuk dari ibu kota mana pun di bumi ini. Jahangirpuri adalah salah satu bagian kota yang paling tercemar.

Setiap hari, warga di wilayah itu tersedak oleh campuran asap pekat dari sampah yang terbakar; ditambah asap knalpot dari truk-truk yang keluar masuk dari depot besar, dan; debu yang berterbangan dari jalan yang tidak beraspal.

Libur akhir tahun dikurangi. (Foto: iNews.id)

“Kami sekarat dalam (proses) kematian yang lambat. Tetapi kami tidak dapat berpikir untuk pergi ke tempat lain karena pekerjaan kami ada di sini,” kata salah satu buruh berupah harian di Delhi, Naresh Yadav (33), kepada Reuters, Kamis (26/11/2020).

Bulan ini, saat angin mendarat dan polutan terperangkap di udara, kadar PM2,5 (partikel kecil yang tersedot jauh ke dalam paru-paru) rata-rata mencapai 390 di Jahangirpuri. Jumlah itu enam kali lebih banyak dari jumlah yang dianggap aman oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pemerintah Delhi pun menyalahkan para petani yang membakar tunggul tanaman di negara bagian tetangga, karena udaranya yang tidak sehat. Menteri Utama (setara gubernur) New Delhi, Arvind Kejriwal, pada pekan ini mengatakan, perilaku para petani itu juga memperburuk dampak wabah virus corona (Covid) di wilayahnya.

Faktanya, lebih dari setengah polutan yang mencemari udara Delhi adalah hasil dari emisi kendaraan, limbah beracun, dan asap dari ribuan unit industri kecil yang tidak diatur oleh pemerintah setempat. Belum lagi debu-debu dari proyek konstruksi yang tidak pernah berakhir, juga memperparah kondisi itu, menurut hasil analisis sejumlah kelompok lingkungan.

“Delhi tidak dapat membangun tembok untuk mencegah udara tercemar datang dari negara bagian sekitarnya. Akan tetapi, mereka harus memeriksa sumber pencemaran udara sendiri, baik itu debu, industri ilegal, pabrik pencemar, kendaraan yang mencemari, atau pembakaran limbah dan biomassa,” kata pendiri grup lingkungan Swechha, Vimlendu Jha.

Larangan pembakaran sampah secara rutin dilanggar oleh warga Jahangirpuri yang padat penduduk. Selain itu, ada toko-toko cat dan pewarna kecil ilegal yang beroperasi dari rumah-rumah yang turut mencemari udara dan air di daerah itu.

Pada hari Rabu (25/11/2020) kemarin, sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) sampah lainnya dengan ketinggian lebih dari 60 meter di daerah Ghazipur, terbakar dan mengeluarkan asap beracun ke atmosfer.

“Kami mengalami kesulitan bernapas karena asap yang keluar dari TPA yang telah terbakar sejak kemarin,” kata seorang warga, Vivek Shukla (34).

Libur akhir tahun dikurangi. (Foto: iNews.id)

Editor : Ahmad Islamy Jamil