UEA dan Bahrain Tandatangani Normalisasi Hubungan Diplomatik dengan Israel di Gedung Putih

Arif Budiwinarto ยท Rabu, 16 September 2020 - 06:40 WIB
UEA dan Bahrain Tandatangani Normalisasi Hubungan Diplomatik dengan Israel di Gedung Putih

(kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif al-Zayani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah bin Zayed Al-Nahyan.

WASHINGTON, iNews.id - Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain telah menandatangani kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel di Gedung Putih, Washington, Selasa (15/9/2020) waktu setempat. Momen bersejarah ini difasilitasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Penandatanganan normalisasi berlangsung di South Lawn Gedung Putih. Ini merupakan pertama kalinya negara-negara Arab menjalin hubungan dengan Israel dalam kurun waktu 25 tahun sejak terakhir kalinya dilakukan Yordania pada 1994.

Dalam momen bersejarah tersebut Israel diwakili oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, UEA diwakili Menteri Luar Negeri Sheikh Abdullah bin Zayed al-Nahyan dan Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif Al Zayani.

Sebelumnya, UEA terlebih dulu menyatakan setuju memperbaiki hubungan diplomatik dengan Israel pada 13 Agustus lalu, kemudian diikuti Bahrain pada 11 September. Amerika menjadi penengah dalam tercapainya kesepakatan tersebut.

"Kami di sini sore ini untuk mengubah jalannya sejarah," kata Trump dikutip dari Reuters, Rabu (16/9/2020) pagi WIB.

"Setelah beberapa dekade perpecahan dan konflik kami menandai fajar Timur Tengah baru," lanjutnya.

Trump meyakini penandatanganan "Abraham Accords" akan mendorong negara Arab maupun kawasan Teluk lainnya mengikuti langkah UEA dan Bahrain menjalin hubungan diplomatik dengan Israel yang merupakan sekutu Amerika Serikat.

"Kami akan memiliki setidaknya lima atau enam negara untuk menandatangani kesepakatan dengan Israel sesegera mungkin," tuturnya.

Normalisasi hubungan antara UEA, Bahrain dan Israel menuai kecaman dari sejumlah negara-negara Islam, termasuk Iran. Teheran geram dengan langkah kedua negara Arab yang dianggap mengkhianati perjuangan rakyat Palestina.

Tudingan tersebut disanggah oleh Menteri Dalam Negeri Bahrain, Rashid bin Abdullah Al Khalifa mengatakan pada hari Senin (14/9/2020) bahwa kesepakatan normalisasi dengan Israel bukanlah langkah mengkhianati perjuangan rakyat Palestina. Akan tetapi sebagai upaya Bahrain membentengi diri dari ancaman Iran.

"Ini bukan mengabaikan perjuangan Palestina, ini memperkuat keamanan warga Bahran dan stabilitas ekonomi mereka," kata Rashid dikutip dari Times of Israel, Selasa (15/9/2020).

"Palestina adalah tujuan luas kami di jazirah Arab, maka dalam negeri Bahrain adalah tujuan utama kami," pungkasnya.

(kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif al-Zayani, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Abdullah bin Zayed Al-Nahyan seusai penandatanganan normalisasi hubungan di Gedung Putih, Selasa (15/9/2020) waktu setempat. (foto: DAWN).

Editor : Arif Budiwinarto