UEA Normalisasi Hubungan dengan Israel, Iran: Kebodohan yang Sulit Dimaafkan Sejarah

Ahmad Islamy Jamil, Arif Budiwinarto ยท Jumat, 14 Agustus 2020 - 14:17 WIB
UEA Normalisasi Hubungan dengan Israel, Iran: Kebodohan yang Sulit Dimaafkan Sejarah

Iran dan Turki kecam langkah Uni Emirat Arab (UEA) normalisasi hubungan dengan Israel (foto: ist)

DUBAI, iNews.id - Langkah Uni Emirat Arab menormalisasi hubungan dengan Israel menuai kecaman dari sejumlah negara. Turki mengutuk langkah tersebut, sementara Iran menyebutnya sebagai tindakan bodoh.

Uni Emirat Arab (UEA) sepakat menormalisasi hubungan dengan Israel, Kamis (13/8/2020) kemarin. Kesepakatan tersebut diungkap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, lewat kicauan di media sosial Twitter.

Trump menyebut kesepakatan Israel-UEA sebagai "perjanjian perdamaian bersejarah antara dua sahabat besar kami." Amerika berkontribusi sebagai penengah perundingan kedua negara.

AFP melaporkan, Jumat (14/8/2020), ini merupakan kesepakatan ketiga Israel dengan negara-negara Arab. Salah satu isi kesepakatan normalisasi yang disetujui Israel adalah menangguhkan pencapolkan (aneksasi) terhadap tanah Palestina.

Langkah UEA tersebut justru memicu reaksi keras dari beberapa negara anti-Israel seperti Iran dan Turki. Kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyataan yang mengecam normalisasi hubungan dua negara.

Iran menyebut langkah tersebut sebagai "kebodohan strategis" dan mengatakan rakyat Palestina akan melabeli UEA sebagai kepanjangan tangan zionis Israel.

"Semua orang tertindas di Palestina dan semua negara bebas di dunia tidak akan pernah memaafkan normalisasi hubungan dengan rezim kriminal penjajah Israel dan keterlibatannya dalam kejahatan kemanusiaan," demikian pernyataan Iran.

Senada dengan Iran, Kementerian Luar Negeri Turki juga mengutuk langkah UEA. Turki geram dengan kebijakan Abu Dhabi yang dianggap mengorbankan kepentingan rakyat Palestina.

"UEA mencoba menampilkan ini sebagai tindakan pengorbanan diri, sementara mereka mengkhianati perjuangan rakyat Palestina," pernyataan resmi Kemlu Turki dikutip dari AFP.

"Sejarah dan hati nurani masyarakat yang tinggal di wilayah ini tidak akan pernah lupa dan memaafkan perilaku munafik ini," lanjut isi pernyataan.

Sementara itu, pemimpin UEA Syekh Muhammad bin Zayed al-Nahyan mengumumkan bahwa mereka telah menyetujui normalisasi penuh hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab.

Dikatakan pula bahwa Israel akan “menangguhkan deklarasi kedaulatan” atas wilayah Tepi Barat Palestina yang diduduki—sebuah gagasan yang diusulkan dalam rencana kontroversial Trump sebelumnya untuk menyelesaikan konflik kedua negara.

Syekh Muhammad dengan cepat mengklaim dalam tweet-nya bahwa kesepakatan yang dicapai dengan Trump dan Netanyahu antara lain bertujuan untuk menghentikan pencaplokan Israel lebih lanjut atas wilayah Palestina.

Akan tetapi, Netanyahu mengatakan tak lama kemudian dalam pidato di televisi Israel bahwa dia hanya setuju untuk menunda, bukan membatalkan pencaplokan terhadap Tepi Barat. Dia memastikan, rencana aneksasi itu tetap akan berlangsung. Dia juga menegaskan tidak akan pernah menyerahkan “hak atas tanah Israel” kepada Palestina.

Editor : Arif Budiwinarto