WHO Hentikan Uji Coba Hidroksiklorokuin untuk Pasien Covid-19, Ini Alasannya

Anton Suhartono ยท Kamis, 18 Juni 2020 - 17:30 WIB
WHO Hentikan Uji Coba Hidroksiklorokuin untuk Pasien Covid-19, Ini Alasannya

WHO resmi menghentikan uji coba hidroksiklorokuin bagi pasien Covid-19 (Foto: AFP)

JENEWA, iNews.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghentikan uji coba penggunaan obat hidroksiklorokuin bagi pasien Covid-19. Hasil uji coba menunjukkan, obat antimalaria tersebut gagal menurunkan angka kematian.

Obat ini disertakan dalam beberapa uji klinis secara acak, namun WHO pada akhirnya memutuskan untuk menariknya.

Pejabat program darurat kesehatan WHO Ana Maria Henao Restrepo mengatakan, hidroksiklorokuin resmi ditarik dari Solidarity Trial melibatkan banyak negara.

"Bukti internal dari Solidarity/Discovery Trial, bukti eksternal dari Recovery Trial serta bukti gabungan dari uji coba acak, menunjukkan hidroksiklorokuin bila dibandingkan dengan standar perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit, tidak menunjukkan pengurangan kasus kematian," katanya, dikutip dari AFP, Kamis (18/6/2020).

Dia melanjutkan, berdasarkan analisis dan tinjauan bukti, Kelompok Eksekutif di WHO menyimpulkan uji coba hidroksiklorokuin dihentikan dari Solidarity Trial.

Solidarity Trial merupakan uji coba obat Covid-19 di bawah naungan WHO. Banyak negara terlibat dalam uji coba ini dengan menyertakan pasien terinfeksi virus corona.

Meski demikian Ana Maria melanjutkan, keputusan untuk berhenti menguji coba hidroksiklorokuin tidak berlaku bagi tindakan pencegahan terhadap virus.

Pada awal Juni, Universitas Oxford, Inggris, selaku penyelenggaran Recovery Trial mengumumkan, hidroksiklorokuin tidak membantu pasien Covid-19.

Untuk itu Oxford menghentikan perekrutan pasien untuk diberi hidroksiklorokuin.

"Kesimpulan kami adalah perawatan ini tidak mengurangi risiko kematian akibat Covid-19 pada pasien rumah sakit," kata profesor kedokteran dan epidemiologi Oxford yang juga pemimpin penelitian, Martin Landray.

Uji klinis acak telah melibatkan total 11.000 pasien dari 175 rumah sakit di Inggris.

Editor : Anton Suhartono