Demo Terkait Keringanan UKT, 2 Mahasiswa Unas Dikeluarkan

Harits Tryan Akhmad ยท Jumat, 10 Juli 2020 - 14:08 WIB
Demo Terkait Keringanan UKT, 2 Mahasiswa Unas Dikeluarkan

Ilustrasi demo (Foto: iNews)

JAKARTA, iNews.id - Sebanyak 10 mahasiswa Universitas Nasional (Unas) diberikan sanksi drop out (DO) atau dikeluarkan dari kampus hingga skors usai menggelar aksi unjuk rasa di media sosial terkait keringanan biaya kuliah.

Ada dua mahasiswa Unas yang diberikan sanski drop out, mereka adalah Wahyu Krisna Aji dan Deodatus Sunda. Lalu ada dua mahasiswa mendapat sanksi skorsing dan enam lainnya mendapatkan peringatan keras.

Plt Humas Unas, Marsudi menerangkan, pemeberian sanksi terhadap mahasiswa itu berdasarkan SK rektor nomor 112 Tahun 2014 tentang tata tertib kehidupan kampus bagi mahasiswa Unas.

“Betul, Unas telah melakukan pemecatan terhadap mahasiswa tersebut berdasarkan SK rektor nonomr 112 Tahun 2014 tentang tata tertib kehidupan kampus bagi mahasiswa,” kata Marsudi saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Sebelum menjatuhkan sanksi, kata Marsudi, pihaknya telah melakukan prosedur dengan melakukan pemanggilan terhadap oknum mahasiswa untuk dimintai klarifikasi atas unggahan di media sosial.

Hasilnya 80% mahasiswa yang panggil mengakui salah atas unggahan di media sosial dan meminta maaf serta menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulangi.

“Namun oknum mahasiswa diberi sanksi skorsing hingga pemecatan ini mengulangi melakukan provokasi di media sosial dan melakukan tindakan-tindakan di luar kepatutan sebagai mahasiswa, serta melakukan tindakan anarkis, melakukan pengerusakan mobil dosen, membakar jaket almamater, melakukan penggembokan gerbang kampus dan pembakaran ban di depan kampus saat aksi,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah salah satu mahasiswa yang di drop out yakni Krisna menjelaskan, aksi yang dilakukannya adalah merespon SK. Rektor no.52 tahun 2020 tentang pemotongan biaya kuliah semester genap tahun akademik 2019/2020.

SK tersebut, lanjut dia, mengatur pemotongan biaya Rp 100.000 untuk terhadap 10.000 mahasiswa aktif. Sedangkan ada mahasiswa Unas yang aktif ada 13.477.

“Respons tersebut berbentuk kampanye media yang di posting serentak oleh mahasiswa Unas dengan hastag #UNASGAWATDARURAT. Lalu kampus merespon kampanye media tersebut dengan pemanggilan 27 mahasiswa yang terlibat dalam kampanye media pada 16 Mei 2020 untuk menghadap ke Komisi Disiplin Unas pada 10-12 Juni,” kata Krisna.

Dalam pemanggilan yang mulanya bertujuan klarifikasi, namun menurutnya justru terdapat muatan intimidasi dan ancaman serta penandatangan surat pernyataan bersalah dan tidak akan mengulangi hal tersebut. Jika tidak, diancam akan di pidanakan dengan dalih pencemaran nama baik dalam UU ITE.

“Nah saya adalah salah satu mahasiswa yang tidak menandatangani surat pernyataan tersebut. Terhitung sudah 5 kali aksi dilakukan UGD,” katanya.

Usai adanya peristiwa itu, Krisna pun mendapatkan surat SK Dekan Fisip Unas tentang pemberentian permanen statusnya sebagai mahasiswa. Surat tersebut pun langsung diterima oleh orang tuanya pada tanggal 9 Juli 2020.

“Surat tersebut berisi tentang pemberhentian dari status mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unas secara Permanen, terhitung dari SK itu dikeluarkan. Selain itu, ada 1 mahasiswa bernama Deodatus Sunda SE yang turut di D.O oleh dekan FISIP. Lalu 2 mahasiswa juga turut di skorsing dan 6 lainnya di beri peringatan keras,” kata dia.

Editor : Muhammad Fida Ul Haq