Jakarta Terasa Lebih Panas Belakangan Ini, Penyebabnya Mengejutkan!
JAKARTA, iNews.id - Jakarta terasa semakin panas belakangan ini. Terik Matahari pada siang hari membuat aktivitas di luar ruangan terasa menyengat, bahkan ketika warga hanya berjalan kaki atau menunggu kendaraan di tepi jalan.
Namun, penyebabnya ternyata bukan sekadar cuaca panas biasa. Ada kombinasi fenomena alam dan kondisi lingkungan perkotaan yang membuat hawa di Ibu Kota terasa semakin gerah, salah satunya urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto menjelaskan, cuaca panas yang dirasakan warga Jakarta dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari musim kemarau, minimnya tutupan awan, hingga karakteristik wilayah perkotaan.
Guswanto mengatakan, kondisi langit yang lebih cerah membuat radiasi Matahari mencapai permukaan Bumi secara lebih maksimal. Akibatnya, permukaan tanah, aspal, dan bangunan menyerap lebih banyak energi panas.
Selain itu, fenomena El Niño yang berada pada kategori sangat kuat turut berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut membuat musim kemarau terasa lebih kering.
BMKG melaporkan bahwa El Niño masih berlangsung dengan intensitas sangat kuat pada Oktober 2026. Kondisi ini, ditambah pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) positif, dapat mengurangi potensi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam prakiraan cuaca periode 20–26 Oktober 2026, BMKG menyebut cuaca panas dan relatif kering masih berlangsung di sejumlah wilayah. Minimnya tutupan awan memungkinkan lebih banyak radiasi Matahari mencapai permukaan Bumi sehingga meningkatkan pemanasan pada siang hari.
Meski demikian, pengaruh El Niño terhadap curah hujan tidak berarti setiap wilayah akan selalu mengalami cuaca cerah. Hujan lokal tetap berpeluang terjadi, bergantung pada kondisi atmosfer setempat.
Faktor lainnya adalah posisi semu Matahari yang melintasi wilayah sekitar Pulau Jawa pada periode tertentu.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan sebelumnya menjelaskan bahwa Jakarta dan sekitarnya dapat terasa lebih gerah pada akhir September hingga Oktober karena posisi semu Matahari berada di sekitar wilayah tersebut.
Ketika Matahari berada relatif tinggi di langit, energi radiasi yang diterima permukaan dapat meningkat, terutama jika tutupan awan sedikit.
Kondisi ini membuat permukaan jalan, trotoar, atap bangunan, dan area terbuka menerima paparan Matahari yang kuat. Suhu permukaan benda-benda tersebut pun dapat menjadi lebih tinggi daripada suhu udara yang tercatat oleh alat pengukur cuaca.
Selain faktor cuaca, Jakarta juga menghadapi fenomena urban heat island. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika kawasan perkotaan cenderung lebih panas dibandingkan daerah sekitarnya yang memiliki lebih banyak vegetasi.
Fenomena tersebut berkaitan dengan banyaknya permukaan buatan manusia, seperti aspal, beton, bangunan, dan jalan raya, yang menyerap serta menyimpan panas.
Guswanto menjelaskan bahwa panas yang tersimpan pada permukaan perkotaan dapat dilepaskan secara perlahan, termasuk setelah Matahari terbenam. Karena itu, udara di sejumlah kawasan Jakarta masih bisa terasa gerah pada malam hari.
Minimnya ruang hijau di kawasan tertentu juga dapat memperkuat efek tersebut. Pepohonan membantu memberikan keteduhan dan mendinginkan lingkungan melalui proses evapotranspirasi, yakni pelepasan uap air dari tanah dan tumbuhan.
Sebaliknya, kawasan yang didominasi beton dan aspal memiliki kemampuan pendinginan alami yang lebih terbatas.
Akibatnya, dua lokasi yang berada di kota yang sama bisa memiliki kondisi panas berbeda. Jalan yang minim pepohonan, misalnya, dapat terasa lebih menyengat dibandingkan taman yang rindang.
Rasa panas yang dialami seseorang tidak hanya ditentukan oleh angka suhu udara.
Paparan sinar Matahari secara langsung, suhu permukaan di sekitar tubuh, pergerakan angin, dan kelembapan udara turut memengaruhi kenyamanan termal.
Ketika seseorang berada di bawah terik Matahari, tubuh menerima tambahan panas melalui radiasi. Aspal dan bangunan yang panas juga dapat meningkatkan beban panas di lingkungan sekitar.
Kelembapan udara turut berperan. Jika kelembapan tinggi, keringat lebih sulit menguap sehingga proses pendinginan alami tubuh menjadi kurang efektif.
Karena itu, suhu udara yang tercatat pada termometer belum tentu sepenuhnya menggambarkan seberapa panas kondisi yang dirasakan seseorang saat beraktivitas di luar ruangan.
Meski demikian, kelembapan tidak selalu tinggi saat cuaca panas. Kondisi udara yang lebih kering pun dapat meningkatkan risiko kehilangan cairan melalui keringat.
Kondisi panas pada Oktober 2026 perlu dilihat dari dua aspek, yakni dinamika cuaca dalam jangka pendek dan perubahan lingkungan perkotaan dalam jangka panjang.
El Niño, tutupan awan, curah hujan, dan posisi semu Matahari memengaruhi kondisi cuaca pada periode tertentu. Sementara itu, urban heat island berkaitan dengan karakteristik lingkungan kota, termasuk kepadatan bangunan, material permukaan, dan ketersediaan ruang hijau.
Keduanya dapat terjadi secara bersamaan dan membuat panas terasa lebih menyengat.
Namun, cuaca panas yang dirasakan belakangan ini tidak otomatis membuktikan bahwa suhu Jakarta terus meningkat setiap tahun. Untuk memastikan tren tersebut, diperlukan catatan suhu jangka panjang dari stasiun pengamatan yang dapat dibandingkan secara konsisten.
Fenomena urban heat island juga bukan berarti Jakarta sedang mengalami gelombang panas. Keduanya merupakan fenomena berbeda yang perlu dibedakan berdasarkan karakteristik dan data meteorologis.
Di tengah kondisi tersebut, warga disarankan membatasi aktivitas berat di bawah Matahari pada siang hari, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta mencukupi kebutuhan cairan.
Pada akhirnya, panas Jakarta bukan hanya persoalan cuaca. Kondisi atmosfer dan cara lingkungan perkotaan menyerap serta melepaskan panas sama-sama memengaruhi kenyamanan warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Editor: Muhammad Sukardi