Jelang Idul Fitri, Harga Bawang Putih di Pasar Kramat Jati Stabil

Antara ยท Sabtu, 23 Mei 2020 - 16:03 WIB
Jelang Idul Fitri, Harga Bawang Putih di Pasar Kramat Jati Stabil

Ilustrasi, bawang putih dan bawang bombai di pasar tradisional. (Foto: Istimewa).

JAKARTA, iNews.id - Harga bawang putih di Jakarta menjelang Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah relatif stabil. Kondisi tersebut dinilai karena kebijakan relaksasi impor.

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Induk Kramat Jati, Anas berharap kebijakan relaksasi impor yang diberlakukan oleh pemerintah tidak dilakukan hanya selama wabah virus corona (Covid-19).

"Kondisi sekarang harga murah dan stabil, bawang putih jenis kating kami jual Rp15.000 per kilogram, kalau sudah dikupas Rp18.000 per kilogram, sedangkan jenis banci atau honan lebih murah, kami jual seharga Rp12.000," ujar Anas di Jakarta, Sabtu (23/5/2020).

Dia menilai, kebijakan relaksasi impor perlu dilaksanakan meskipun wabah Covid-19 telah berakhir. Menurutnya, harga bawang akan kembali naik jika kebijakan relaksasi tersebut dicabut.

"Karena memicu harga mahal. Buat apa harga mahal tapi barang kami tidak laku. Dan ini yang saya takutkan karena mengganggu keluar masuknya kebutuhan masyarakat," katanya.

Sementara itu, pemerhati pertanian Syaiful Bahari, menyampaikan persoalan kenaikan harga komoditi terkait impor seperti bawang putih, bombay dan gula, selama ini lebih banyak disebabkan oleh kebijakan restriksi atau pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah sendiri.

"Sebagai contoh bawang putih, komoditi ini selalu menuai kasus sejak 2014. Mulai dari gugatan di KPPU sampai operasi tangkap tangan oleh KPK. Sumber masalahnya satu SPI dan RIPH. Regulasi ini yang justru menyuburkan permainan kuota, penimbunan dan sampai rekayasa harga oleh sekelompok mafia pangan," katanya.

Sementara itu, menjelang Hari Raya Idul Fitri, Pasar Minggu, Jakarta Selatan diserbu pembeli, Sabtu (23/5/2020). Mereka berbelanja kebutuhan pokok untuk keperluan lebaran seperti daging, kelapa, santan dan bumbu masakan.

Pantauan di lokasi, para pembeli berjubel tanpa menjaga jarak fisik (physical distancing) sesuai aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam rangka mencegah penyebaran virus corona (Covid-19).

Pembeli didominasi oleh kaum ibu, ada yang sendiri atau berkelompok dengan tetangga. Selain itu ada juga yang datang ditemani suami, bahkan ada juga yang membawa anak.

Editor : Kurnia Illahi