Pemprov DKI Gencarkan Operasi Modifikasi Cuaca, Polutan Turun hingga 57 Persen
JAKARTA, iNews.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Smart Cakrawala Aviation menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Jumat (28/8/2026).
Operasi ini dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan di tengah musim kemarau sekaligus membantu memperbaiki kualitas udara Jakarta.
"Kami melakukan ikhtiar bersama untuk menjaga Jakarta dari potensi ancaman musim kemarau. Modifikasi cuaca ini dilakukan di lokasi yang telah kami pantau, termasuk titik-titik dengan angka polutan relatif tinggi," ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (28/8/2026).
Pelaksanaan OMC menjadi salah satu langkah mitigasi terhadap dampak musim kemarau. Operasi ini dilakukan berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer secara real time dan rekomendasi BMKG.
Dia menambahkan, langkah tersebut ditempuh setelah lima wilayah kota administrasi Jakarta berstatus siaga berdasarkan peringatan dini kekeringan meteorologis. Kondisi itu ditandai dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) sedikitnya 31 hari berturut-turut.
Selain kekeringan, sebelum 20 Agustus 2026 kualitas udara Jakarta juga tercatat berada dalam kategori tidak sehat selama 26 hari terakhir.
Hingga 26 Agustus, sebanyak 24 sorti penerbangan OMC telah dilakukan dengan total durasi sekitar 21 jam. Operasi tersebut menggunakan dua pesawat Cessna Caravan 208B milik Smart Cakrawala Aviation.
Pesawat melakukan penyemaian pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Dalam kondisi tertentu, penyemaian juga diarahkan ke titik prioritas yang teridentifikasi memiliki kualitas udara kurang baik atau kadar PM2.5 tinggi.
Marulitua mengatakan, OMC yang dilakukan pada 27 Agustus menghasilkan hujan di sejumlah wilayah Jakarta. Evaluasi sementara juga menunjukkan penurunan polutan di sejumlah wilayah berkisar 23-50 persen, dengan penurunan tertinggi sementara mencapai 57 persen.
"OMC berhasil mengoptimalkan potensi hujan di beberapa lokasi. Kami juga melihat adanya penurunan angka polutan, namun hasilnya tetap kami evaluasi karena kondisi atmosfer sangat dinamis," tuturnya.
Meski demikian, dia menegaskan OMC bukan satu-satunya instrumen yang digunakan pemerintah untuk menangani kualitas udara Jakarta.
Dari sisi teknis, BMKG menyesuaikan metode dan bahan semai dengan kondisi atmosfer. Pada musim kemarau, salah satu metode yang digunakan adalah water mist dengan campuran air dan surfaktan Sodium Lauryl Sulfate (SLS) untuk membantu mengikat polutan di udara.
"Pada modifikasi cuaca kali ini, metode yang digunakan berbeda dengan saat musim penghujan. Pada musim kemarau, kami menggunakan surfaktan yang dicampur dengan air untuk membantu mengikat polutan dan menurunkan angka polutan di wilayah DKI Jakarta," ujar Tim Supervisi OMC BMKG Sutrisno.
Apabila hasil pemantauan menunjukkan pertumbuhan awan yang memenuhi kriteria, tim dapat menggunakan CaCl2 atau kalsium klorida untuk membantu proses kondensasi dan mengoptimalkan potensi hujan yang telah terbentuk secara alami.
"Ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya pertumbuhan awan yang memenuhi kriteria, bahan semai CaCl2 dapat digunakan untuk membantu proses kondensasi awan. Metode ini dilakukan secara bersama dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer yang ada," katanya.
Editor: Aditya Pratama