Senja Kala Wisata Malam Jalan Jaksa

Ahmad Islamy Jamil ยท Selasa, 06 Maret 2018 - 06:14 WIB
Senja Kala Wisata Malam Jalan Jaksa

Suasana Jalan Jaksa di Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Senin malam, 5 Maret 2018. Kawasan ini dulu dikenal sebagai salah satu tujuan wisata utama turis-turis asing di Ibu Kota. (Foto: iNews.id/Ahmad Islamy Jamil)

JAM di ponsel ketika itu menunjukkan pukul 01.40 WIB, Selasa (6/3/2018). Meski sudah lewat tengah malam, aktivitas manusia masih saja terdengar ingar-bingar di Kafe Equal Park (EP). Cahaya temaram dibalut hentakan musik reggae menawarkan atmosfer duniawi begitu kental kepada para pengunjung kafe yang terletak di Jalan Jaksa, Kelurahan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat itu.

Beberapa kursi di Kafe EP malam itu tampak diisi oleh turis-turis asing. Ada yang berkulit putih, ada pula yang berwajah khas Afrika. Tak lupa, sambil menenggak minuman berbuih dari gelas kaca, manusia-manusia itu sesekali terlihat menggerakkan kepala dan badan mereka mengikuti irama musik yang dibawakan para musisi muda pengisi acara di kafe tersebut.

Oleh sebagian kalangan wisatawan mancanegara (wisman) yang pernah bertandang ke Jakarta, nama Jalan Jaksa tentu sudah tak asing. Kawasan ini dari dulu memang dikenal sebagai salah satu tempat bersantai para “bule” (sebutan umum orang Indonesia untuk turis berkulit putih—red) yang tengah menghabiskan waktu luang di Ibu Kota.

Suasana Kafe Equal Park (EP) di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat, Selasa (6/3/2018). Tempat minum ini menjadi satu dari sedikit kafe yang masih bertahan di kawasan itu.


Hingga 2016, Jalan Jaksa setidaknya masih menjadi tujuan favorit bagi para backpacker alias turis-turis yang bepergian dengan hanya berbekal ransel. Para bule biasanya mudah ditemukan berkeliaran di jalan sepanjang 400 meter itu setiap hari. Jika malam tiba, suasana pun terasa makin bersemarak oleh kelap-kelip lampu aneka warna yang terpancar dari kafe-kafe di kawasan itu.

Namun, Jalan Jaksa kini sejatinya tak seperti dulu lagi. Jika dua tahun lalu kafe dan bar yang menjamur di sepanjang jalan itu masih berlomba-lomba menawarkan kehidupan malam, pemandangan sekarang justru terlihat berbeda. Beberapa kafe di sana sudah berhenti beroperasi. Sebagian lagi ada pula dipasangi spanduk bertuliskan “(bangunan ini) dijual” atau “dikontrakkan”.

“Beberapa tahun terakhir memang banyak kafe dan bar di sini yang tutup. Tapi saya tidak tahu persis apa alasan di balik penutupan tempat-tempat itu,” tutur salah satu pramusaji Kafe EP, Rina, kepada iNews.id.

Selain Kafe EP, Memories Cafe juga termasuk salah satu di antara sedikit kafe yang masih bertahan di Jalan Jaksa saat ini. Ketika berkunjung ke sana, kemarin, iNews.id mendapati kafe tersebut masih dikunjungi sejumlah turis kulit putih. Namun, usia restoran itu pun sepertinya tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Sebab, di bagian depan bangunannya kini telah dipasangi alat peraga bertuliskan “dijual”.

Suasana Memories Cafe di Jalan Jaksa, Selasa (6/3/2018). Tampak di bagian atas bangunan kafe ini telah terpasang spanduk bertuliskan "dijual".


Pemilik Memories Cafe, Helmi (60) mengungkapkan, kafe yang dia kelola tersebut sudah beroperasi sejak 35 tahun silam. Adapun bangunan yang digunakan sebagai tempat bisnis restoran itu merupakan warisan dari orang tuanya. Saat ini, kata dia, ada keinginan dari para ahli waris yang lain untuk menjual aset milik keluarga itu.

“Jumlah ahli waris di keluarga kami ada empat orang. Saya yang paling kecil (umurnya). Kami bersaudara sepakat untuk menjual bangunan kafe ini. Hasil penjualannya nanti akan dibagi-bagi,” ungkap Helmi, Senin (5/3/2018).

Dia menuturkan, jumlah pengunjung yang datang ke kafenya sejauh ini masih terbilang normal. Tidak ada peningkatan maupun penurunan signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kebanyakan turis yang bertandang ke Memories Cafe berasal dari negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, dan Italia.

Di kalangan bule backpacker yang pernah ke Jakarta, kata Helmi, nama Memories Cafe memang cukup terkenal. Bahkan, ada beberapa di antara mereka secara rutin menyambangi kafe itu. "Bule-bule yang sudah jadi pelanggan saya paling enggaknya datang ke mari (Memories Cafe) dua kali setahun," ujarnya.

Tidak sekadar menyambangi kafe, sebagian turis biasanya juga menyempatkan diri bermalam di tempat-tempat penginapan yang terdapat di Jalan Jaksa. Harga sewa yang terjangkau dan kebersihan kamar menjadi alasan utama mereka memilih menginap di kawasan itu. Bahkan, kata Helmi, beberapa wisatawan asing yang menjadi pelanggan Memories Cafe mengaku senang bermalam di Jalan Jaksa lantaran di situ mereka bisa leluasa berbaur dan berkomunikasi dengan penduduk setempat.

“Ada pelanggan bule yang nanya kenapa saya jual kafe ini. Mereka jadi sedih, karena udah kadung jatuh cinta sama (Kafe) Memories dan Jalan Jaksa,” tutur lelaki kelahiran 1957 itu.

Bangunan bekas tempat hiburan lain di Jalan Jaksa yang kini telah ditutup dan dijual oleh pemiliknya. 


Menurut Helmi, kunjungan wisman ke Jalan Jaksa biasanya cenderung meningkat antara Mei hingga medio Desember. Pada periode tersebut, tempat-tempat penginapan di kawasan itu nyaris terisi penuh oleh para turis. Sementara, mulai pekan terakhir Desember hingga April, pengunjung yang datang ke Jalan Jaksa menjadi relatif sepi. Tren kunjungan semacam itu, kata Helmi, sangat dipengaruhi oleh siklus musim panas dan musim dingin di negara-negara Eropa.

Peak season (puncak) kunjungan wisatawan asing ke sini (Jalan Jaksa) terjadi ketika di Eropa sedang musim panas. Sementara, saat di sana mengalami musim dingin, yang datang ke sini tidak seberapa,” aku Helmi.

Dia mengatakan, ada beberapa kafe yang dulu pernah berjaya di Jalan Jaksa, tapi kini sudah berhenti beroperasi atau pindah ke lokasi lain. Di antaranya adalah Obama Cafe, Papa's Cafe, Ali's Bar, dan KL Village. Namun, dia menampik jika tutupnya kafe-kafe itu disebabkan semakin sepinya turis yang mampir ke Jalan Jaksa.

Obama Cafe pindah ke Jalan Falatehan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setelah bangunan lama restoran itu di Jalan Jaksa dibeli oleh Hotel Morissey. Sementara, pengelola Ali's Bar memutuskan untuk memindahkan bisnisnya ke kawasan Cibubur. Keputusan itu diambil karena KPPD (Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah) DKI Jakarta selaku pemilik gedung yang ditempati Ali’s Bar menaikkan harga sewa properti itu.

Lain halnya dengan KL Village. Menurut Helmi, kafe tersebut terpaksa ditutup karena memang sudah bangkrut. Menurut informasi yang beredar, kata Helmi, kebangkrutan yang dialami kafe itu disebabkan mismanagement atau kesalahan tata kelola usaha oleh pemiliknya. “Jadi, tutupnya beberapa kafe di sini dilatarbelakangi oleh kasus yang berbeda-beda,” ujarnya.


Seorang warga yang bermukim di Jalan Jaksa, Alang (57), mengungkapkan pendapat berbeda soal semakin meredupnya gairah wisata di kawasan itu. Menurut dia, banyaknya bisnis kafe yang gulung tikar sekarang ini antara lain dikarenakan kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melarang para pengunjung memarkirkan kendaraan mereka di badan jalan itu sejak 2015.

“Dua tahun lalu, separuh dari badan jalan di sini masih boleh digunakan untuk lahan parkir mobil. Tapi sejak itu dilarang, (pengunjung) yang datang ke mari malah makin sepi, karena udah enggak bisa markir mobil lagi. Padahal, orang kalau datang ke kafe itu biasanya berombongan atau rame-rame, dan sudah pasti bawa mobil. Jarang sekali ada yang datang ke sini sendirian,”ujar Alang.

Salah satu pemilik warung makan tegal (warteg) di Jalan Jaksa, Ivan (32), mengakui adanya penurunan signifikan kunjungan wisman di kawasan itu. Sekitar dua tahun lalu, warungnya masih acap disinggahi turis-turis asing. Namun, pemandangan semacam itu kini seakan kian langka.

“Dulu, setiap hari selalu ada bule yang makan di sini. Tapi sekarang, dalam seminggu itu belum tentu ada bule yang masuk ke mari (warteg ini),” ucap Ivan. ***

Editor : Ahmad Islamy Jamil