11 Contoh Cerpen Persahabatan Singkat, Penuh Kisah Inspiratif
Namaku Riko, seorang Siswa SMP kelas IX asal Bogor. Aku memiliki sahabat bernama Andre, yang merupakan teman setia dan sekelas sejak di bangku sekolah dasar.
Hari ini adalah hari Sabtu, dimana mata pelajaran hanya 3 mapel. Pada mapel terakhir, yakni Bahasa Inggris. Semua berjalan seperti biasa. Hari telah menunjukkan pukul 13.20, tandanya sebentar lagi akan pulang.
Tiba-tiba pintu kelas ditotok oleh seseorang. Ketika bu guru membukanya, ternyata yang datang adalah Pak Imron, yang tidak lain yakni Pamannya Andre, adek kandung dari ibunya.
“Tok..tok..tok..” suara ketukan pintu berbunyi.
“Iya, silakan masuk..” sambut Bu guru.
“Permisi bu, saya izin menjemput Andre untuk membawanya pulang..” ucap Pak Imron.
“Ada persoalan apa ya pak…?” Tanya bu guru.
“Begini bu, keluarga Andre baru saja mengalami musibah, rumahnya kebakaran dan semuanya habis dimakan api. Untungnya tidak ada korban jiwa sedikitpun..” sambung Pak Imron.
Tiba-tiba seisi kelas panik bercampur sedih, dan aku melihat wajah Andre tampak kesedihan yang begitu mendalam. Kemudian bu guru mengizinkan Andre untuk pulang.
Ketika bel pulang berbunyi, aku menghimbau seluruh teman sekelas untuk jangan pulang dulu. Aku mengajak mereka semua untuk melakukan penggalangan dana kepada seluruh lapisan guru dan siswa/i di sekolah mulai besok.
Sepulangnya dari sekolah besok, aku juga mengajak mereka untuk melakukan penggalangan di tepi jalan raya. Tanpa pikir panjang, semua teman sekelas setuju.
Setelah penggalangan di sekolah dan tepi jalan raya selesai. Aku dan teman-teman sangat bersyukur karena dana yang terkumpul cukup banyak, yakni 16 juta rupiah. Aku dan teman-teman langsung menuju kediaman Andre dan keluarganya.
Sesampainya disana, aku melihat kesedihan Andre dan keluarganya begitu mengiris hati, mengingat semua isi rumah habis dilalap api.
Assalamualaikum bu, pak, nde, aku dan teman-teman mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah yang kalian hadapi. Ini, ada sedikit bantuan dari teman-teman dan saudara, semoga bisa meringankan beban kamu dan keluarga ya ndre..” ucapku.
Andre tampak sedikit senang dan kemudian langsung memeluk kami semua, seraya berkata…
“Terima kasih banyak teman-teman atas bantuannya. Terima kasih juga atas kehadiran dan ucapan belasungkawanya. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan kalian dan para penyumbang..” tuntas Andre.
Kamipun berkumpul dan mencoba menghibur Andre dan keluarganya hingga menjelang sore.
Dia sering mengajakku kerumah-nya, dan aku pun sering mengajak nya kerumahku. Ia bernama Dinda dan aku bernama Dita. Aku suka bercerita tentang hidupku kepadanya, itu karna ia bisa memberiku nasihat dan membuatku semangat, biarpun di ejek teman-temanku.
Dinda adalah tipe orang peceria, ia selalu ceria biar ada yang nakal kepada-nya ataupun jail,tidak seperti aku Cuma di ejek aja aku sudah merasa… eeeeehhhhmmmm.
Pada suatu hari Dinda mengajakku jalan-jalan ke tempat bermain, aku saaaangat senang, kami bermain sepuas-nya,semua permainan kami coba,mulai dari komedi putar hingga rollkoster. Sampai-sampai kami lupa waktu.
Sekarang sudah sore, akhirnya kami pulang kerumah masing-masing. Selama aku tetap bersamanya,hidupku akan terasa senang dan bahagia, biar diejek teman-temanku, karena ada dinda yang selalu menghiburku.
Tapi, pada suatu hari ia tak hadir ke sekolah, sehabis pulang sekolah aku kerumah-nya. Tapi apaa? dirumahnya pun kosong, aku sangat bingung, kenapa hari ini dinda tak ada, biasanya kalau ia mau pergi ia selalu memberi tahuku, tapi kali ini tidak. Aku bingung sekali.
Besok harinya, disekolah dinda masih tidak hadir. Aku pun kembali lagi kerumah-nya, dan masih tidak ada orang-nya. Besok hari nya lagi disekolah ia tetap tidak hadir, kambali lagi aku kerumah-nya dan masih tidak ada.
Setiap hari aku menunggnya di sekolah tapi ia tak kunjung hadir. setiap hari pun aku kerumahnya.dan dirumah-nya masih tak ada orang-nya. Akhirnya, hari-hariku ku lewati sendirian, tidak lagi bersamanya,hari-hari pun berjalan dengan buruk.Teman-temanku tak ada yang mau menjadi temanku, mungkin…itu karna hidupku yang miskin.
Namaku Sinta Putri, aku sangat senang dengan pelajaran Bahasa Indonesia dan Biologi. Aku mempunyai sahabat yang unik bernama Aulia, dan aku bingung dengannya.
Dikarenakan sahabatku orang yang sangat sensitif. Menurut dia, aku tidak boleh suka dengan kedua pelajaran tersebut. Padahal, itu hakku.
Suatu waktu saat pelajaran bahasa Inggris, tidak tahu mengapa tiba-tiba aku suka dengan pelajaran tersebut. Mungkin karena guru yang mengajarkan mempunyai cara penyampaian yang baik. Otomatis aku juga mulai aktif di kelas saat pelajaran Bahasa Inggris.
Teng teng teng, bunyi bel sekolah, waktu istirahat tiba.
Saat itu aku langsung menghampiri Aulia untuk mengajaknya ke kantin.
"Aul, ke kantin yuk?" ajakku.
"Ngga, aku ngga mau lagi sahabatan sama kamu!" jawabnya sembari buang muka.
Awalnya kejadian seperti itu hanya sekali dan kita berdua balikan seperti semula. Namun, lama-kelamaan terjadi hal yang serupa. Sangat aneh.
Aulia bukannya mengerti perasaanku, justru bikin aku kesal. Ceritanya begini, waktu Ujian Tengah Semester (UTS) dia kesusahan menjawab soal pelajaran Biologi, saat itu dia melihat ke arahku. Aku dan Aulia tidak satu bangku, Aulia tepat di depan tempat aku duduk.
"Sin, kamu tahu ngga nomor 5 essay? minta jawabannya dong satu aja!" tanya Aulia sembari memohon.
"Udah si, ini kan bukan ulangan biasa!" jawabku.
"Yah kamu.." sembari jengkel.
Aku cuek saja akan hal itu dan berharap bahwa dia akan instropeksi. Coba bayangkan, dia sudah membuatku sakit hati dan dia ingin meminta jawaban UTS.
Beberapa hari kemudian hasil nilai UTS Biologi dibagikan dan diumumkan. Aku mendapat nilai 90 sedangkan Aulia mendapat nilai 75. Aku bisa melihat tatapan iri di sahabatku itu, dan aku sadar bahwa bersahabat dengan orang yang suka iri hati adalah hal yang susah.
Editor: Johnny Johan Sompotan