3 Buku Karya Romo Magnis Suseno, Pengajar Filsafat yang Ditemui oleh Ganjar Pranowo
Tulisan-tulisan ini mencakup berbagai tema seperti korupsi, eksekusi hukuman mati bagi terpidana narkoba, ideologi, hak asasi manusia, dan fenomena populisme. Dalam usahanya, Franz Magnis-Suseno berupaya untuk menggali kembali akar-akar kebangsaan Indonesia melalui kajian terhadap dokumen-dokumen sejarah penting seperti Sumpah Pemuda, pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, dan kesepakatan tentang Pancasila pada 18 Agustus 1945.
Tulisan-tulisan dalam buku ini bermula dari keprihatinan terhadap bagaimana bangsa Indonesia dapat menjaga martabat kemanusiaannya di tengah tantangan modernitas yang tidak dapat dihindari. Buku ini terstruktur dalam empat bagian yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan krusial.
Bagian pertama membahas bagaimana agama pada abad ke-21 dapat tetap relevan dan berakar. Bagian kedua mengangkat sejumlah isu yang, jika tidak ditangani dengan tepat, dapat mengancam martabat kemanusiaan, seperti sikap terhadap LGBT, hukuman mati, dan masa kelam pasca-G30S (1965).
Fokus bagian ketiga adalah pendidikan karakter, menjadi syarat agar bangsa Indonesia tidak terpuruk di era revolusi Industri 4.0. Sementara itu, bagian keempat menyoroti peran penting filsafat, yang diakui memiliki peran sentral dalam ranah akademis sebuah bangsa dan perlu dijunjung tinggi di Indonesia. Filsafat, jauh dari ketidakberpihakan, sejatinya terbuka untuk diskusi dan argumentasi rasional.
Demikian beberapa karya buku populer dari Romo Magnis Suseno. Dengan pertemuan Ganjar Pranowo dan Romo Magnis Suseno di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara serta pemberian dua buku karya Romo Magnis, terbuka peluang untuk lebih memahami pemikiran filosofis yang mendalam tentang etika, moral, dan tantangan di era modern.
Karya-karya Romo Magnis, seperti "Etika Politik," menggali prinsip-prinsip moral dasar kenegaraan modern melalui analisis filosofis terhadap pemikiran tokoh-tokoh besar dalam sejarah filsafat politik. Buku-buku tersebut menjadi sumber pengetahuan yang berharga terutama bagi mahasiswa, politisi, dan ahli hukum di Indonesia.
Editor: Simon Iqbal Fahlevi