5 Mahasiswa di Malang Ciptakan Kacamata Pintar Berbasis AI, Bantu Tunanetra Deteksi Obat
"Awalnya saya dari Prodi Informatika, waktu itu memang lagi gencar-gencarnya ikut seleksi PKM dan Alhamdulillah kami lolos dan terpilih," ujarnya.
Vision Medichine menggunakan teknologi pemindai yang terintegrasi dengan voice assistant. Pengguna cukup mengarahkan kacamata ke obat yang akan dikonsumsi, lalu perangkat akan membacakan nama dan informasi dasar obat tersebut.
“Alat ini didukung dengan voice assistant, jadi penggunanya atau tunanetranya bisa tanya-tanya juga terkait data setempat,” kata Fitra.
Bentuknya yang ergonomis membuat kacamata ini nyaman digunakan sehari-hari tanpa pelatihan teknis rumit, sehingga mendukung kemandirian tunanetra. Saat ini, proyek Vision Medichine telah mencapai progres 30–40 persen.
"Alhamdulillah, semua lancar dan aman. Apalagi komponen-komponen yang dibutuhkan sudah datang serta bimbingan dari dosen seperti Pak Galih Wasis Wicaksono yang sangat membantu," ucapnya.
Meski begitu, pengembangan alat ini sempat mengalami kendala teknis.
"Ada beberapa komponen yang kita beli namun tidak berfungsi seperti yang kami harapkan, misalkan kamera ketika kami uji coba di lapangan hasilnya beda dan tidak berfungsi," kata Fitra.
Editor: Donald Karouw