Alfitra Salamm Mengaku Dimintai Rp500 Juta oleh Aspri Imam Nahrawi

Riezky Maulana ยท Rabu, 11 Maret 2020 - 17:24 WIB
Alfitra Salamm Mengaku Dimintai Rp500 Juta oleh Aspri Imam Nahrawi

Asisten pribadi (aspri) Imam Nahrawi, Miftahul Ulum. (Foto: ANTARA)

JAKARTA, iNews.id – Mantan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), Alfitra Salamm, mengaku pernah dimintai sejumlah uang oleh salah satu terdakwa kasus dana hibah Kemenpora kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Miftahul Ulum. Jumlah uang yang diminta Ulum ketika itu sejumlah Rp500 juta.

Alfitra mengatakan, uang tersebut diminta Ulum untuk Imam Nahrawi guna membiayai salah satu kegiatan organisasi keagamaan pada 2015. Untuk waktunya, Ulum yang ketika itu bertindak sebagai asisten pribadi (aspri) Nahrawi, datang kepadanya sekitar Juli.

“Pada Tahun 2015 sekitar Bulan Juli, asisten pribadi terdakwa (Imam Nahrawi) meminta bantuan operasional terdakwa untuk kegiatan organisasi keagamaan. Waktu itu dia (Ulum) mengatakan begini bahwa ‘big boss’ butuh bantuan mau ada kegiatan keagamaan pada Agustus Tanggal 6, maka penting untuk dibantu,” ujarnya ketika menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus dana hibah KONI dengan terdakwa Imam Nahrawi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Rabu (11/3/2020).

Alfitra mengatakan, ketika meminta uang tersebut, Ulum juga mengancamnya. Ancamannya yaitu, jika Alfitra tidak memberikan uang tersebut, jabatan sesmenpora yang ketika itu dia emban akan segera dicopot. “Beliau (Ulum) bilang ini harus diberikan. Kalau tidak, jabatan saya sebagai sesmenpora akan dievaluasi, akan dicopotlah,” ungkapnya.

Ketika mendengar permintaan itu, Alfitra mengaku tidak memiliki uang sebanyak itu. Oleh karenanya, Alfitra meminta bantuan dari sekretaris jenderal KONI saat itu, Ending Fuad Hamidy, yang juga pengusaha. “Saya menyampaikan bahwa kita tidak punya keuangan untuk bantuan organisasi keagamaan. Tetapi karena Ulum mendesak terus, saya akhirnya telepon Saudara Hamidy lah. Saya minta bantuan, ‘kalau bisa supaya dibantu’ saya bilang gitu,” tuturnya.

Setelah meminta kepada Hamidiy, yang bersangkutan bersedia untuk membantu namun jumlahnya tidak langsung Rp500 juta. Ketika itu, dia diberikan uang sebesar Rp300 juta terlebih dulu. “Hamidy ini adalah seorang pengusaha, dia punya uang, ya dia akhirnya mau bantu. Saya disampaikan Pak Hamidy sekitar Rp300 juta,” katanya.

Alfitra menuturkan, Hamidy langsung berkoordinasi dengan Wakil Bendahara Umum KONI sekaligus Bendahara Pengeluaran Pembantu Satlak Prima, Lina Nurhasanah. Lina ditugaskan untuk menyiapkan uang tersebut oleh Hamidy.

“Lina saat itu koordinasi ke saya untuk menyiapkan tiket pesawat pergi ke Surabaya. Saya dengan Pak Hamidy pergi ke Surabaya bulan Agustus, kemudian saya ketemu Lina di Surabaya, setelah itu kami pergi ke sebuah kota tujuan (Jombang),” ucapnya.

Saat bertemu Lina di Surabaya, Alfitra menuturkan, perempuan itu datang bersama salah satu pegawai Deputi IV Kemenpora, Alverino Kurnia, di Bandar Udara Juanda. Uang itu langsung diberikan kepada Hamidy di dalam sebuah tas besar.

Alfitra menuturkan, setelah makan di salah satu restoran, dia dan Hamidy langsung menuju Jombang guna bertemu Imam Nahrawi dan Ulum. Pertemuan dilangsungkan di sebuah rumah kontrakan. “Gini, sebagai sesmenpora saya tahu agenda Pak Menteri. Ketemu di sebuah rumah kontrakan,” katanya.

Setibanya di rumah kontrakan tersebut, Alfitra langsung menyerahkan uang Rp300 juta itu kepada Ulum yang berada di bagian luar rumah. Saat menyerahkan uang, Alfitra mengatakan terdakwa Imam Nahrawi mengetahui adanya transaksi tersebut lantaran jarak antara Alfitra, Hamidy, dan Ulum hanya sekitar 15 meter dari terdakwa.

“Uang diserahkan kepada Ulum. Ada Pak Hamidy disamping. Kelihatan kok, tetapi jaraknya sekitar 15 meter,” ucapnya.

Setelah itu, barulah Alfitra dan Hamidy menemui Nahrawi yang berada di dalam rumah sambil berkata mohon maaf karena baru bisa memberikannya sekarang. Nahrawi, kata dia, mengucapkan terima kasih. “Saya menyampaikan kepada terdakwa, ‘mohon maaf baru sekarang saya bisa bantu’. Kata terdakwa (Nahrawi) ‘terima kasih ya’,” ucap Alfitra menirukan percakapan antara dia dan Nahrawi ketika itu.

Adapun permintaan uang Rp500 juta—yang kemudian hanya diberikan Rp300 juta tersebut—bukan permintaan satu-satunya dari Ulum. Alfitra mengatakan, Ulum sempat beberapa kali meminta uang, salah satunya Rp5 miliar pada 2016.

“Waktu organisasi keagamaan itu kan dia minta sekitar 300 juta. Kemudian waktu Tahun 2016 itu ada Rp5 miliar,” katanya.

Nahrawi didakwa menerima uang suap sebesar Rp11,5 miliar guna mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah KONI. Dalam perkara tersebut, terdapat dua proposal kegiatan KONI yang menjadi sumber suap dari asisten pribadi Nahrawi, Miftahul Ulum.

Pertama, terkait proposal bantuan dana hibah Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada penyelenggaraan Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018. Proposal kedua, terkait dukungan KONI pusat dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi pada 2018.

Uang tersebut diterima oleh Ulum dari Ending Fuad Hamidy selaku sekretaris jenderal (sekjen) KONI, dan Jhonny E Awuy selaku bendahara umum KONI. Nahrawi juga didakwa menerima gratifikasi berupa uang sejumlah Rp8,6 miliar. Uang itu diterima Nahrawi melalui asisten pribadinya, Miftahul Ulum, dan tercatat dalam rentang 2014 hingga 2019.

Editor : Ahmad Islamy Jamil