Ancaman Sunyi Abu Vulkanik
Pilot Eric Moody meraih mikrofon dengan tenang seakan telah berdamai dengan keadaan. Kata-katanya kepada penumpang lewat pengeras suara kelak dicatat sejarah sebagai salah satu kalimat paling tenang di pintu gerbang kematian:
“Ladies and gentlemen, this is your captain speaking. We have a small problem. All four engines have stopped. We are doing our damnedest to get them going again. I trust you are not in too much distress.”
“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, ini kaptenmu yang berbicara. Kita mengalami sedikit masalah. Keempat mesin pesawat mati. Kami sedang berupaya sekuat tenaga untuk menghidupkannya kembali. Saya harap Anda sekalian tidak terlalu cemas.”
Tapi kalau belum takdirnya mati, ajal tentu harus mengalah. Sekitar 15 menit setelah terbang terus merendah, satu mesin pesawat mulai kembali menyala saat ketinggian tepat 13.500 kaki. Harapan hidup kembali muncul. Ajal sedikit demi sedikit undur diri. Pesawat bisa dikendalikan lagi dan berhasil mendarat di aspal Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sebanyak 263 penumpang terbebas dari kematian yang hanya berjarak sejengkal dari urat lehernya.
Insiden pesawat City of Edinburgh yang terbang dari Malaysia menuju Australia itu kemudian dikenal dengan sebutan Jakarta Incident. Ada juga yang menyebutnya The Volcano Flight, karena menjadi kasus pertama pesawat komersial lumpuh total akibat debu letusan gunung berapi.