Badan Geologi: Retakan Anak Krakatau Normal, Tak Perlu Dikhawatirkan

Aditya Pratama ยท Kamis, 03 Januari 2019 - 07:01 WIB
Badan Geologi: Retakan Anak Krakatau Normal, Tak Perlu Dikhawatirkan

Pemandangan dari udara letusan Gunung Anak Krakatau pada Minggu (23/12/2018). (Foto: Dok KKP).

JAKARTA, iNews.idBadan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan retakan pada Gunung Anak Krakatau sebagai hal yang wajar. Kondisi tersebut lumrah terjadi setelah gunung mengalami erupsi.

Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM Antonius Ratdomopurbo menuturkan, letusan gunung api lazimnya meninggalkan bekas atau perubahan bentuk pada gunung tersebut. Salah satunya retakan. Ini antara lain terjadi pada Gunung Kelud.

”Misalkan Gunung Kelud (erupsi), terus hari berikutnya dikunjungi itu kan dindingnya tidak halus, penuh dengan retakan dimana-mana, itu hal wajar,” kata Antonius kepada iNews.id, Rabu (2/1/2019). Pernyataan ini merespons informasi yang disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang adanya dua retakan baru di badan Gunung Anak Krakatau.

BACA JUGA: Gunung Anak Krakatau Meletus Ratusan Kali Dalam Sehari

Antonius kembali mencontohkan peristiwa amblesnya Jalan Gubeng di Surabaya. Kondisi jalan setelah longsor juga ditemukan retakan di beberapa bagian jalan yang tidak ikut ambles. Pada prinsipnya, retakan pada gunung setelah erupsi merupakan hal biasa.

”Itu normal, gunung dimanapun kalau setelah meletus pecah-pecah gak karuan. Dindingnya ada yang runtuh, ada yang meledak, ada yang terlempar kemana mana,” ujar dia.

Ditanya mengenai kemungkinan retakan Anak Krakatau dapat memicu tsunami susulan di Selat Sunda, dia justru meminta hal tersebut dikonfirmasi ke BMKG. Badan Geologi memastikan, retakan pada Anak Krakatu masuk kategori kecil.

Antonius menegaskan, pada 26 Desember 2018, puncak Anak Krakatau runtuh. Ini menyebabkan ketinggian gunung susut menjadi 110 meter dari sebelumnya 338 meter. Peristiwa ini tidak menyebabkan tsunami.

”Kenapa mereka bersikeras bahwa itu tanggal 22? Wong runtuhnya puncak Anak Krakatau itu pada 26 Desember, itu kan besar banget sampai hujan abu. Tapi tidak ada tsunami. Sekarang ini malah retakan kecil kok dianggap berpeluang tsunami, bagaimana ini?” ujarnya.

BACA JUGA: Terus Erupsi, Tinggi Gunung Anak Krakatau Susut Tinggal 110 Meter

Sementara itu, Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar dalam laman resmi Kementerian ESDM mengungkapkan, hingga Rabu (2/1/2019), berdasarkan hasil evaluasi seismik dan data visual yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terhadap Gunung Anak Krakatau menunjukkan bahwa saat ini masih dalam fase erupsi.

Selain itu masih terekam kegempaan di stasiun seismik di Pulau Sertung berupa gempa-gempa letusan, eembusan, dan tremor menerus dengan amplitudo maksimum dominan 7mm.
Rudi menjelaskan, tidak ada potensi terjadinya tsunami dari aktivitas vulkanik tersebut.

Untuk diketahui, pada 26 Desember 2018 terjadi letusan besar yang menyebabkan longsoran besar dan menghancurkan seluruh puncak Gunung Anak Krakatau. Runtuhnya seluruh puncak dan sebagian besar tubuh tersebut tidak menimbulkan tsunami.

"Adapun yang disinyalir sebagai adanya retakan di lereng Gunung Anak Krakatau, hal itu merupakan sisa-sisa dari proses runtuhan yang disebabkan letusan 26 Desember 2018, dan itu adalah hal yang wajar di dalam letusan gunungapi. Tidak perlu dikhawatirkan," kata Rudy.

 


Editor : Zen Teguh