Banyak Pengangguran akibat Corona, GP Ansor Luncurkan Kursus Bahasa Korea Online

Muhammad Fida Ul Haq ยท Jumat, 24 April 2020 - 06:19 WIB
Banyak Pengangguran akibat Corona, GP Ansor Luncurkan Kursus Bahasa Korea Online

Ketum PP Ansor Yaqut Cholil Qoumas saat konferensi persn di Ansan, Korsel. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Wabah virus Corona atau Covid-19 menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaannya. Pelatihan kerja dinilai perlu agar warga yang terkena PHK bisa kembali mendapatkan pekerjaan dengan keahlian baru.

Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor menilai, mekanisme kartu Prakerja yang berisi pelatihan sangat berisiko, tidak efesien, dan bisa jadi tidak akan tepat sasaran. Menurut PP GP Ansor, program Kartu Prakerja ini sebaiknya dievaluasi kembali dan dialihkan untuk program perluasan jaring pengaman sosial yang lebih tepat sasaran dan dibutuhkan masyarakat.

“Memberikan porsi anggaran yang nilainya begitu besar kepada startup-startup digital di saat krisis kemanusiaan seperti saat ini, bukan saja menunjukkan hilangnya rasa keadilan sosial, juga menunjukkan kurang berpihaknya negara kepada masyarakat yang lemah dan dilemahkan (mustadláfin),” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas, Kamis (23/4/2020).

Berangkat dari keprihatinan itulah, kata dia, GP Ansor berkolaborasi dengan Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI), dan KoreanFirst menggagas aplikasi online kursus Bahasa Korea.

“GP Ansor akan menggratiskan penggunaan platform ini kepada masyarakat yang berminat belajar Bahasa Korea. Nilai awal kursus ini sebesar Rp1.420.000. Kursus ini bisa jadi alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk belajar Bahasa Korea dari rumah, sebagai bagian peningkatan pengetahuan, terutama yang memiliki rencana bekerja di Korea. Platform ini bisa diakses lewat web di https://kelas.koreanfirst.net atau melalui PlayStore dengan nama aplikasi Kelas Korea,” kata Gus Yaqut, sapaan akrabnya.

Gus Yaqut menjelaskan, pihaknya menggandeng SPPI karena organisasi ini memiliki anggota 11 ribu lebih yang tersebar di seluruh dunia, termasuk di Korea yang sebagian besar anak buah kapal (ABK).

Ilyas Pangestu, Ketua SPPI menambahkan, ABK memang salah satu kelompok pekerja migran yang rentan terhadap eksploitasi, bahkan human trafficking. Dengan hadirnya organisasi serikat pekerja dalam siklus pelatihan ini, pihaknya berharap risiko-risiko perdagangan manusia akan bisa dihilangkan, sehingga semua pekerja migran Indonesia (PMI) dapat bekerja di luar negeri dengan aman.

“Fokus kami memang pada perlindungan pekerja migran Indonesia. Kami melakukan advokasi dan pendampingan kepada pekerja, terutama yang memiliki masalah. Untuk, tenaga kerja harus benar-benar disiapkan, salah satunya penguasaan bahasa. Jadi pelatihan online ini sangat tepat, targetnya pelatihan lebih jelas, yakni masyarakat yang mau belajar Bahasa Korea untuk bekal dia bekerja di Korea,” katanya.

Sedangkan Danu Sonsengnim, perwakilan dari lembaga First Korea menjelaskan, kelas online ini merupakan kontribusi nyata dari Korea First, GP Ansor, dan SPPI untuk masyarakat Indonesia di masa pandemi sekarang ini, terutama yang ingin menambah bekal keahlian berbahasa Korea untuk rencana kerja ke depan.

“Selain untuk menambah pengetahuan atau kemampuan berbahasa Korea untuk diri sendiri, bagi masyarakat yang ingin bekerja di Korea atau bekerja di perusahaan Korea yang ada di Indonesia, kursus online Bahasa Korea ini jadi pilihan. Selain itu, peserta pelatihan bisa ikut konsultasi juga tentang melamar kerja di Korea. Kami sampaikan, peluang kerja di Korea masih sangat besar sekali. Untuk jelasnya silakan klik website-nya di https://kelas.koreanfirst.net atau melalui PlayStore dengan nama aplikasi Kelas Korea,” ujarnya.

Sekjen GP Ansor Abdul Rochman menambahkan, ke depan GP Ansor akan terus berkomitmen mengembangkan pelatihan-pelatihan lain yang dapat bermanfaat bagi rakyat Indonesia untuk meningkatkan kapasitasnya dan masuk ke dunia kerja secara lebih kompetitif.

Editor : Muhammad Fida Ul Haq