BBM Bikin Menjerit, Mobil Listrik Dinilai Jadi Penumpang Pasar Otomotif
JAKARTA, iNews.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mendorong pergeseran tren di industri otomotif nasional. Mobil listrik atau electric vehicle (EV) kini semakin dilirik masyarakat dan berpotensi menjadi penopang utama pertumbuhan sektor ini.
Lonjakan minat terhadap EV terlihat dari peningkatan penjualan yang konsisten sejak tahun lalu hingga memasuki 2026. Selain faktor kenaikan harga BBM nonsubsidi, selisih harga antara kendaraan listrik dan mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) yang semakin tipis turut mempercepat adopsi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga memperkuat daya tarik EV. Jarak tempuh kendaraan listrik kini mampu mencapai hingga 600 kilometer dalam sekali pengisian penuh, sehingga kekhawatiran terkait keterbatasan jarak tempuh mulai berkurang.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), terjadi perubahan signifikan dalam struktur pasar otomotif. Pangsa mobil ICE yang pada 2021 mencapai 99,6 persen turun menjadi 78,2 persen pada 2025. Sementara itu, kontribusi battery electric vehicle (BEV) meningkat dari 0,1 persen menjadi 12,9 persen.
Insentif Dicabut, Jangan Kaget Segini Perkiraan Pajak Mobil Listrik Jaecoo J5 EV dan Denza D9
Memasuki Maret 2026, tren tersebut terus berlanjut. Pangsa BEV naik menjadi 15,6 persen, sedangkan ICE turun menjadi 75 persen. Penjualan BEV tercatat meningkat signifikan sebesar 96 persen menjadi 33.146 unit dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 16.926 unit.