BMKG: Rentetan Gempa 7 Juli 2020 Tidak Saling Berhubungan

Kurnia Illahi ยท Selasa, 07 Juli 2020 - 17:59 WIB
BMKG: Rentetan Gempa 7 Juli 2020 Tidak Saling Berhubungan

BMKG menyatakan rentetan gempa bumi yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia pada Selasa (7/7/2020) tidak saling berhubungan. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi yang terjadi beruntun pada Selasa (7/7/2020) tidak memiliki kaitan dengan gempa yang terjadi sebelumnya. Sumber gempa, kedalaman dan mekanisme gempa berbeda.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan, yang terjadi di beberapa wilayah gempa tersebut merupakan manifestasi pelepasan medan tegangan pada sumber gempa masing-masing. Sumber gempa mengalami akumulasi medan tegangan sendiri-sendiri, mencapai stress maksimal hingga selanjutnya mengeluarkan energi sebagai gempa masing-masing.

“Ini konsekuensi logis daerah dengan sumber gempa sangat aktif dan kompleks. Kita memang memiliki banyak sumber gempa sehingga jika terjadi gempa di tempat yang relatif berdekatan lokasinya dan terjadi dalam waktunya yang relatif berdekatan maka itu hanya kebetulan saja,” kata Rahmat, Selasa (7/7/2020).

Rentetan gempa mengguncang beberapa wilayah Indonesia pada Selasa pagi hingga siang ini. Gempa antara lain terjadi di Laut Jawa utara Jepara berkekuatan Magnitudo 6,1 pada pukul 05.54 WIB, Selatan Banten M5,1 pukul 11.44 WIB, Gempa Selatan Garut M 5,0 pukul 12.17 WIB, dan Gempa Selatan Selat Sunda M5,2 pada 13.16. WIB. Gempa di Selatan Banten bahkan memicu kepanikan hingga Jakarta.

Ditanya apakah rentetan gempa ini sebagai pertanda akan terjadi gempa besar? Rahmat menegaskan hal tersebut sulit diprediksi. Tetapi dengan adanya rentetan aktivitas gempa ini masyarakat patut mewaspadai.

Rahmat menjelaskan, dalam ilmu gempa atau seismologi, khususnya pada teori tipe gempa terdapat tipe gempa besar yang kejadiannya diawali dengan gempa pendahuluan atau gempa pembuka. Setiap gempa besar hampir dipastikan didahului dengan rentetan aktivitas gempa pembuka.

Tetapi, kata dia, rentetan gempa yang terjadi di suatu wilayah juga belum tentu berakhir dengan munculnya gempa besar. Inilah karakteristik ilmu gempa yang memiliki ketidakpastian (uncertainty) tinggi dan penting untuk dipahami.

Rahmat juga memastikan, sumber gempa di Banten Selatan dan Selatan Garut berbeda. Gempa Banten selatan terjadi akibat adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di Zona Benioff di kedalaman 87 kilometer, sementara Gempa Selatan Garut dan Selatan Selat Sunda dipicu oleh adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di Zona Megathrust.

Guncangan gempa M5,1 yang bersumber di Lebak sangat dirasakan di Jakarta karena adanya fenomena efek tapak (local site effect) di mana efek soft sedimen/tanah lunak yang tebal di Kota Jakarta memicu terjadinya resonansi gelombang gempa. Hal ini memicu guncangan gempa diamplifikasi besar guncangannya sehingga wilayah Jakarta sangat merasakan gempa tersebut.

“Dalam teori gempa disebutkan bahwa dampak gempa tidak saja akibat magnitudo gempa dan jaraknya dari sumber gempa, tetapi kondisi geologi setempat sangat menentukan dampak gempa,” kata dia.

Editor : Zen Teguh