Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Prabowo Perintahkan Usut Tuntas Kasus Karhutla: Ini Kejahatan Kemanusiaan!
Advertisement . Scroll to see content

BMKG Sebut Modifikasi Cuaca Pakai Dry Ice Bantu Urai Kabut Asap Karhutla, Jarak Pandang Membaik

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:15:00 WIB
BMKG Sebut Modifikasi Cuaca Pakai Dry Ice Bantu Urai Kabut Asap Karhutla, Jarak Pandang Membaik
BMKG menyebut penyemaian dry ice menunjukkan indikasi positif dalam mengurai kabut asap karhutla, ditandai jarak pandang yang berangsur membaik. (Foto: Dok. BMKG)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut penyemaian dry ice atau es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menunjukkan indikasi dampak positif dalam mengurai kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan. Salah satu indikator terlihat dari jarak pandang di sejumlah wilayah terdampak yang berangsur membaik, termasuk Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto menjelaskan, penyemaian dry ice dilakukan untuk mengatasi lapisan inversi atmosfer yang menahan asap di dekat permukaan. Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat terjebak di atmosfer hingga ketinggian 6.000–7.000 kaki atau lebih.

“Lapisan inversi bertindak seperti tutup yang menghambat pergerakan udara vertikal. Melalui penyemaian dry ice secara akurat dari pesawat di atas lapisan tersebut, kita berupaya menghilangkan tutup inversi ini," ucap Seto dalam keterangannya dikutip, Kamis (22/10/2026).

"Sublimasi dry ice memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak, sehingga 'pintu' aliran konveksi kembali terbuka dan asap dapat naik secara vertikal untuk terurai dan memperbesar peluang untuk awan agar bisa tumbuh untuk kemudian disemai,” tuturnya.

Seto menegaskan, penggunaan dry ice dalam operasi ini berbeda dari penyemaian awan yang bertujuan memicu hujan. BMKG menargetkan lapisan inversi yang menahan asap serta melakukan intervensi pada lapisan isoterm untuk mengubah kestabilan udara di atmosfer bagian atas.

Teknik tersebut menjadi salah satu alternatif ketika kondisi atmosfer cenderung kering dan jumlah awan potensial untuk disemai terbatas.

Seto menyebut, BMKG mengevaluasi dampak penyemaian dry ice melalui sejumlah parameter, terutama peningkatan jarak pandang (visibility) dan penurunan konsentrasi partikel polutan PM2.5 di udara. Kedua indikator tersebut digunakan untuk memantau perubahan kondisi atmosfer dan kualitas udara di wilayah terdampak.

“Dalam beberapa hari pelaksanaan, intervensi dry ice menunjukkan indikasi dampak yang cukup baik. Jarak pandang di wilayah terdampak berangsur membaik, seperti yang sempat terjadi di Palembang beberapa hari lalu. Kondisi ini penting untuk mendukung operasional armada udara satuan tugas (satgas), termasuk helikopter water bombing dan pesawat patroli, sekaligus membantu aktivitas penerbangan sipil kembali berjalan lebih normal sesuai kondisi keselamatan penerbangan,” kata dia.

Perbaikan jarak pandang dinilai penting untuk mendukung pemadaman karhutla melalui udara, termasuk operasi helikopter water bombing dan patroli. Meski demikian, BMKG masih memerlukan pemantauan serta analisis data berkelanjutan untuk menilai dampak penyemaian dry ice terhadap kondisi atmosfer dan kualitas udara.

BMKG menegaskan, penyemaian dry ice melalui OMC bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi karhutla. Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat dalam mencegah dan menangani kebakaran.

Dalam pelaksanaannya, BMKG menyusun strategi intervensi atmosfer berdasarkan analisis meteorologi dan kondisi lapangan. TNI dan Kementerian Pertahanan mendukung pengerahan armada penerbangan, BNPB mengoordinasikan dukungan penanggulangan bencana, Kementerian Kehutanan mendukung penanganan karhutla di darat, sedangkan BRIN berkontribusi melalui riset dan kajian ilmiah.

“OMC bukan satu-satunya upaya untuk menanggulangi karhutla. Pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta gerakan sukarela masyarakat dan NGO juga memegang peranan penting. Semua pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu mengakhiri karhutla secepat mungkin. Karena itu, setiap upaya harus berjalan selaras, saling mendukung, dan berkesinambungan,” ucapnya.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut