BSSN Sebut Kondisi Keamanan Siber Indonesia Membaik pada 2020

Antara ยท Jumat, 25 September 2020 - 02:15 WIB
BSSN Sebut Kondisi Keamanan Siber Indonesia Membaik pada 2020

Peringkat keamanan siber di Indonesia menduduki posisi ke-21 dari 76 negara di dunia. (Foto: Ilustrasi)

JAKARTA, iNews.id - Kondisi keamanan siber di Indonesia pada tahun 2020 dinilai lebih baik dari tahun 2019. Peringkat Indonesia dalam daftar keamanan siber dunia di posisi ke-21 dari 76 negara di dunia.

"Berdasarkan data penilaian terhadap 76 negara, pada 2019 Indonesia berada pada ranking kedua terburuk setelah Algeria. Namun segera membaik pada 2020 pada peringkat 21," ujar Kasubdit Identifikasi Kerentanan dan Penilaian Risiko Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional III, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Sigit Kurniawan, Kamis (24/9/2020).

Sigit menjelaskan, ada beberapa aspek yang dinilai dalam pemeringkatan itu. Aspek tersebut yakni persentase serangan malware pengguna di sektor keuangan, persentase komputer yang terkena malware, persentase serang botnet dari daerah asal, dan persentase serangan cryptominers atau sindikat penambang mata uang digital.

Selanjutnya yang juga dinilai yakni kesiapan dari serangan siber, dan kebijakan atau policy.

Dia menambahkan, kondisi keamanan siber di Indonesia juga membaik menurut data dari ITU mengenai Global Cybersecurity Index yang melakukan penilaian terhadap 194 negara. Pada 2017 Indonesia menempati posisi 70, dan meningkat pada penilaian tahun 2018 dengan berada pada posisi 41. Aspek yang dinilai antara lain legal, technical, organizational, capacity building dan cooperation.

Kendati peringkatnya membaik, namun serangan siber mengalami kenaikan secara tahun ke tahun. Serangan siber dari Januari hingga Agustus 2019 sebanyak 39.330.231. Pada periode yang sama di tahun 2020 sebanyak 189.937.542.

"Hampir lima kali lipat kenaikannya," katanya.

Sementara untuk kasus data breach, terdapat 36.771 akun data yang tercuri sepanjang periode Januari hingga Agustus 2020. Pencurian akun terjadi di sejumlah sektor termasuk sektor keuangan.

"Ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi pasar tersendiri, baik yang positif untuk kegiatan dunia maya, maupun menjadi kerawanan tersendiri untuk keamanan siber," katanya.

Kemudian terkait spam dan phishing, pada 2019 Indonesia menempati urutan ketiga dari 20 negara yang paling banyak terkena spam botnet. Persentasinya mencapai 5,8 persen dari total penduduk. Dilihat dari peta serangan phishing kuartal kedua 2020, Indonesia mengalami serangan phishing sebesar 7,6 persen dari total penduduk atau berada pada level moderate.

Dia menambahkan, untuk aduan siber pada periode Januari hingga September 2020, paling banyak terkait konten negatif. Jumlahnya mencapai 1048 aduan. Diikuti kasus penipuan online sebanyak 649 aduan.

"Data BSSN 2020 memperlihatkan kerentanan dari sektor bank. Bahwa kerentanan siber terbesar ada pada minimnya security awareness dengan persentase 49 persen," katanya.

Dia menuturkan, sejalan dengan data tersebut, elemen manusia merupakan faktor kunci keamanan siber. Elemen manusia menyumbang 50 persen dibanding elemen proses dan teknologi.

"Sehingga dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki peran yang penting dalam keamanan siber dibanding kecanggihan teknologi, maupun ketatnya pengawasan terhadap proses atau prosedur," ujarnya.

Editor : Reza Yunanto