Buleleng Daerah dengan Kasus DBD Tertinggi di Indonesia, Jakarta Timur Nomor 5

Sindonews, Binti Mufarida ยท Selasa, 15 September 2020 - 13:11 WIB
Buleleng Daerah dengan Kasus DBD Tertinggi di Indonesia, Jakarta Timur Nomor 5

Data penyebaran DBD di Indonesia yang dicatat Kementerian Kesehatan. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat ada 84.734 kasus demam berdarah dengue (DBD) di seluruh Indonesia hingga September 2020. Kabupaten Buleleng di Bali menjadi daerah tingkat II dengan kasus DBD tertinggi di Indonesia.

Hal itu disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kemkes, Didik Budijanto dalam webinar di Jakarta, Selasa (15/9/2020). Sementara itu Jakarta Timur menempati posisi kelima dengan kasus DBD terbanyak.

“Kita lihat kabupaten kota yang paling tinggi kasus DBD justru di Buleleng (Bali), Bandung (Jawa Barat), Badung (Bali), Sikka (NTT), Jakarta Timur, Lombok Barat (NTB), Denpasar (Bali), Malang (Jatim), Gianyar (Bali), dan Ciamis (Jabar). Kalau di kabupaten kota ini tertinggi ada di Bali ya,” kata Didik.

Didik menjelaskan ada beberapa faktor risiko yang menimbulkan DBD. Antara lain faktor virus dan keadaan lingkungan.

“Kalau kita lihat terjadinya DBD ini ada beberapa penyebab, yang pertama dari virus dengue-nya sendiri yaitu termasuk ke dalam arthropod borne virus, ini yang harus kita antisipasi. Kemudian juga dari nyamuk, jadi nyamuk dari genus virus yang berukuran cukup kecil 55 mm,” ucapnya.

Selain itu, ada dari sisi nyamuk jenis Aedes aegypti yang membawa virus dengue. Serta dari faktor lingkungan yang mempengaruhi siklus hidup nyamuk Aedes aegypti ini.
“Kemudian dari host-nya atau manusianya, bagaimana sirkulasinya, bagaimana siklus hidupnya dari penjamu host-nya ini ketika terjadi infeksi pada seseorang. Dan yang berkaitan dengan hal ini adalah faktor risiko lingkungan. Karena banyak sekali tadah hujan di daerah kita,” ujar Didik.

Didik mengatakan populasi nyamuk aedes aegypti penyebab DBD ini meningkat pada saat musim hujan. Hal itu perlu menjadi perhatian masyarakat agar membersihkan lingkungannya

“Siklus hidup DBD terjadi karena hujan. Jadi ketika musim penghujan maka terjadi kasus yang tinggi namun ketika kemarau ini malah populasi nyamuknya rendah. Tapi begitu hujan lagi populasinya naik lagi. Nah ini karena lingkungan kita berpotensi untuk bisa menjadi sarang untuk bertelur menjadi jentik-jentik nyamuk," katanya.

Menurutnya upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kasus DBD ini terutama dengan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus. Upaya pemberantsan dinilai bisa optimal apalagi banyak masyarakat yang mulai bekerja dari rumah karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Upaya-upaya untuk bisa mengendalikan ketika terjadi pergantian musim dari kemarau ke penghujan. Ini yang perlu diantisipasi dengan kegiatan-kegiatan PSN dan 3M Plus, ini yang bisa kita lakukan,” ucap Didik.

Berikut data kasus DBD di 10 kabupaten kota tertinggi:

1. Buleleng, Bali: 2.677 kasus,

2. Bandung, Jawa Barat: 2.138 kasus,

Editor : Rizal Bomantama

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua