Cegah Kejahatan, Kemendagri Imbau Warga Tak Unggah Data Kependudukan di Medsos

Dita Angga, Koran SINDO ยท Minggu, 28 Juli 2019 - 23:45 WIB
Cegah Kejahatan, Kemendagri Imbau Warga Tak Unggah Data Kependudukan di Medsos

Kemendagri mengimbau agar masyarakat tidak mengunggah data kependudukan di media sosial untuk menghindari terjadinya kejahatan. (Foto: ilustrasi/sindonews.).

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengimbau masyarakat untuk tidak mengunggah data kependudukan mereka di media sosial (medsos) maupun platform lain di jagat maya. Langkah ini dapat mencegah terjadinya kejahatan.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Zudan Arif Fakrullah mengingatkan, banyaknya gambar KTP elektronik maupun kartu keluarga di mesin pencarian Google juga menjadi celah bagi oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan.

Dia menyayangkan selama ini banyak sekali data dan gambar data kependudukan bertebaran di medsos dan laman pencarian.

"Sekadar contoh, ketik 'KTP elektronik' di Google, dalam sekedipan mata atau 0,46 detik muncul 8.750.000 data dan gambar KTP elektronik yang gambarnya tidak diblur sehingga datanya terpampang atau terbaca dengan jelas," kata Zudan, Minggu (28/7/2019).

Hal sama juga berlaku ketika memasukkan kata kunci 'Kartu Keluarga' di mesin pencarian, dalam waktu 0,56 detik muncul tak kurang 38.700.000 hasil data dan gambar KK.

Zudan juga menyebut masyarakat sering kali mudah menyerahkan fotocopy data kependudukan untuk mengurus berbagai hal. Misalnya saja mengurus SIM melalui biro jasa. Begitu juga ketika mengisi ulang pulsa di konter atau warung kerap diminta menulis nomor HP di sebuah buku.

"Data e-KTP dan nomor handphone kita itu sudah kita sebarluaskan sendiri saat masuk hotel, perkantoran, dan lain-lain. Tak ada jaminan data tadi aman tidak dibagikan ke pihak lain sehingga muncul banyak penipuan," tuturnya.

Zudan menegaskan data kependudukan yang diperjualbelikan bukan berasal dari Dukcapil. Menurutnya data kependudukan yang tersimpan di Dukcapil aman tersimpan. Pasalnya sistem pengamanan data center Dukcapil dibuat berlapis. Dalam hal ini harus melalui tiga kali tahapan pindai sidik jari buat yang mau masuk ke data center. Dukcapil juga menggunakan jalur VPN saat berhubungan dengan operator.

"Jadi kalau bocor dari dalam sangat kecil kemungkinannya. Yang paling memungkinkan adalah penyalahgunaan data yang beredar luas di Google tadi dan dikumpulkan serta diolah oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan,” kata dia.

Editor : Zen Teguh