Dharma Pongrekun: Revolusi Industri 4.0 Adalah Rekayasa Kehidupan
JAKARTA, iNews.id - Dunia kini tengah menatap Revolusi Industri 4.0, tidak terkecuali Indonesia. Meski begitu, perubahan tata kelola berdasarkan teknologi dan big data atau otomatisasi sistem produksi itu, bukan tanpa celah.
Wakil Kepada Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Komjen Pol Dharma Pongrekun, mengajak rakyat Indonesia, terutama kaum milenial, agar selalu berpegang pada jati diri sebagai mahluk ber-Ketuhanan. Hal itu penting untuk menghadapi dan mengantisipasi Revolusi Industri 4.0 yang penuh ketidakpastian.
"Revolusi industri sebetulnya adalah rekayasa kehidupan yang akan menjauhkan manusia dengan fitrahnya sebagai mahluk ciptaan Tuhan," katanya dalam seminar bertema "Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan Dalam Menghadapi Revolusi 4.0" yang diselenggarakan Dewan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarief Hidayatullah, Senin 16 September 2019.
Acara yang dihadiri 300-an mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta ini juga menampilkan pembicara lain, yaitu advisor Pt Catira Cyril Raoul Hakim, CEO Akusara Group Muhammad Pradana Indraputra dan Tenaga ahli di Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi FX Rudi Gunawan.
Dalam paparannya Dharma menjelaskan, revolusi industri hanya satu dari agenda tersembunyi dari agenda besar globalisasi untuk merevolusi kehidupan manusia agar menjadi mahluk ateis atau tidak bertuhan. "Globalisasi tujuan akhirnya menjauhkan manusia dari Kemahakuasaan Tuhan, dengan cara merekayasa pola pikir manusia," katanya.
Menurut Dharma, globalisasi memiliki tiga program besar, yaitu money, power dan control. Program money, sudah sukses dengan bersatunya sistem ekonomi seluruh dunia. Program power, juga sudah sukses dengan masuknya sistem global ke dalam sistem dan struktur pemerintahan di seluruh dunia. Yang ketiga, program control, hampir 80 persen sudah terpenuhi.
"Globalisasi ujung-ujungnya merekayasa kehidupan manusia agar masuk ke dalam sistem ateis atau tidak bertuhan," katanya.
Dharma memaparkan, rekayasa kehidupan (life engineering) tersebut, dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) sejak dunia diciptakan. Di era modern, rekayasa kehidupan dilakukan melalui fase-fase revolusi industri, yang akhirnya bermuara pada bertemunya teknologi informasi dan teknologi komunikasi melalui internet sekitar 20-30 tahun lalu. Sejak itulah globalisasi menjadi gelombang yang sangat dahsyat yang sepertinya tidak bisa dihindari.