Dharma Pongrekun: Revolusi Industri 4.0 Adalah Rekayasa Kehidupan
Milenial Bijak Berteknologi
Terkait hal itu, Dharma meminta kaum milenial dapat lebih bijak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Mengingat, teknologi didesain untuk memanipulasi mindset manusia, antara lain dengan cara rekayasa kecerdasan (intelligence engineering), rekayasa konflik (conflict engineering) dan rekayasa serangan (attack engineering).
"Kemajuan teknologi ini hanya pengalihan konsentrasi kita supaya kita tidak punya cukup waktu untuk mengingat Kemahakuasaan Tuhan," katanya.
Menurut Dharma, sekarang ini sarana TIK yang begitu masif dipakai manusia sehari-hari adalah smartphone. Alat ini memang didesain menyajikan kecepatan dan kemudahan sehingga diterima manusia secara luas.
Secara natural, manusia memang menyukai hal yang praktis sehingga alat ini diterima secara masif. Namun, di dalam alat disisipi aplikasi-aplikasi yang memiliki roh kemewahan, roh pornografi dan roh candu.
Wajar jika kemudian, alat ini membuat manusia bisa asyik berjam-jam, sampai lupa waktu salat. Padahal manusia bisa hidup karena roh dari Tuhan. Nah roh itulah yang coba diganggu melalui smartphone. "Dunia nyata Allah yang punya. Dunia maya, Allah yang punya juga," ujarnya.
Dharma menuturkan, pada akhirnya life engineering dengan mindset manipulation ini akan menghasilkan suatu pemahaman ateis - pada diri manusia. Di Eropa sudah banyak yang menjadi ateis dan scientolgy.
Negara-negara yang masih berdiri di atas Ketuhanan, seperti Indonesia, menurut dia, akan dihantam ekonomi oleh globalisasi karena mereka punya uang dan punya pasukan di mana-mana. "Yang dihantam center of gravity-nya yaitu ideologi bangsa," katanya.
Solusinya, menurut Dharma, rakyat Indonesia harus kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa, yaitu menjadi bangsa yang ber-Ketuhanan. "Kalau Sila Pertama Pancasila ini sudah kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari, otomatis sila-sila berikutnya akan terwujud," ujarnya.
Pada bagian akhir, Dharma mengimbau kaum milenial menjadi orang pintar sehingga pada waktunya Indonesia memiliki Teknologi Industri Nasional yang diawaki anak-anak bangsa sendiri. Selain dapat memajukan ekonomi dalam negeri, hal ini juga dapat menjaga data keamanan seluruh bangsa Indonesia dan tidak tergantung dengan bangsa lain.
"Supaya kita tidak menjadi robot atau budak bangsa asing," katanya.
Editor: Djibril Muhammad