Disebut Terima Uang Rp70 Juta di Kasus Romy, Ini Penjelasan Menag

Wildan Catra Mulia ยท Senin, 03 Juni 2019 - 21:49 WIB
Disebut Terima Uang Rp70 Juta di Kasus Romy, Ini Penjelasan Menag

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan keterangan pers terkait dakwaan jaksa KPK di Kantor Kementerian Agama, Senin (3/6/2019). (Foto: iNews.id/Wildan Catra Mulia).

JAKARTA, iNews.id, - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengaku sangat terkejut dirinya disebut menerima uang Rp70 juta dari Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Jawa Timur, Haris Hasanuddin. Lukman menyangkal keras telah menerima duit dalam kasus dugaan korupsi yang juga menyeret mantan Ketua Umum PPP M Romahurmuziy atau Romy itu.

"Saya sungguh sama sekali tidak pernah menerima sebagaimana yang didakwakan itu. (Uang) Rp70 juta dalam dua kali pemberian, katanya, Rp20 juta dan Rp50 juta. Saya tidak pernah mengetahui apalagi menerima adanya hal seperti itu," kata Lukman di kantor Kemenag, Jakarta, Senin (3/6/2019).

Terkait dakwaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam persidangan Haris Hasanuddin tersebut, Lukman mengakui pada waktu kejadian dirinya datang ke Hotel Mercure Surabaya untuk melakukan pembinaan terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN). Karena itu, kata Lukman, tidak mungkin dirinya menerima uang sebagaimana disebut jaksa KPK.

Untuk diketahui Haris Hasanuddin didakwa menyuap Romy dan Menag dalam perkara pengisian jabatan di Kemenag. Dakwaan ini dibacakan jaksa KPK pada persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Jaksa menyebutkan, pada 1 Maret 2019, kata jaksa, Lukman bertemu Haris di Hotel Mercure Surabaya, Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, diduga Lukman selaku menag siap “pasang badan” untuk Haris.

Kemudian, di sana diduga Haris memberi Rp50 juta kepada Lukman. Kemudian, pada 9 Maret 2019, Lukman kembali menerima uang dari Haris sebesar Rp20 juta melalui Herry Purwanto.

Lukman menegaskan, saat melakukan kunjungan kerja ke Surabaya, 1 Maret 2019, dirinya maupun ajudan dan petugas protokol yang mendampingi, tidak pernah menerima pemberian dalam bentuk apapun dari Haris, apalagi pemberian berupa uang sejumlah Rp50juta.

"Saat itu, juga tidak ada pertemuan khusus dengan Haris. Saya hanya ke ruang transit hotel bersama beberapa pegawai dari jajaran Kanwil sekitar 10 menit sebelum acara dimulai. Dari situ langsung mengisi acara. Selesai acara, saya langsung meninggalkan hotel," kata dia.

Menurutnya, pada 9 Maret 2019 di Tebu Ireng Jombang, Haris memang memberikan uang senilai Rp10 juta, bukan Rp20 juta. Namun, uang tersebut diberikan Haris kepada ajudan, bukan kepada dirinya.

Maksud dan tujuan Haris memberikan uang tersebut pun tidak jelas. Ketika hal itu ditanyakan oleh ajudan, Haris mengatakan bahwa uang itu sebagai “honorarium tambahan”. Uang tersebut juga baru disampaikan ajudan kepada Menag setelah sampai di Jakarta.

"Jadi sejak awal, saya memang tidak tahu adanya pemberian uang tersebut," ucap Lukman.

Saat uang tersebut dilaporkan oleh ajudan, Menag menolak untuk menerimanya. Dia berpendapat tidak berhak atas uang tersebut karena tidak memiliki acara apapun yang digelar Kanwil Kemenag Jatim.

"Saya sudah meminta ajudan untuk mengembalikan uang tersebut kepada Haris. Namun, mengingat ajudan tidak pernah bisa bertemu langsung dengan Haris, maka uang tersebut masih disimpan dan baru dilaporkan kembali oleh ajudan kepada saya pada 22 Maret 2019," ujarnya

Uang tersebut kemudian dilaporkan ke KPK pada 26 Maret 2019. Pelaporan uang Rp10 juta sebagai bentuk komitmennya terhadap pencegahan tindak gratifikasi.

Editor : Zen Teguh