Drama Hoaks Ratna Sarumpaet Dianggap Blunder Terburuk Prabowo
JAKARTA, iNews.id - Berita bohong (hoaks) yang diciptakan Ratna Sarumpaet tidak hanya membodohi publik. Kebohongan itu juga dinilai sebagai blunder terburuk bagi capres nomor urut 02 Prabowo Subianto dalam Pilres 2019.
Pengamat komunikasi politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad mengatakan, hoaks yang diciptakan Ratna Sarumpaet tersebut dari sisi komunikasi politik bisa dilihat dari dua sudut pandang.
Pertama, kasus ini bisa jadi by design atau sengaja diciptakan kubu Prabowo-Sandiaga Uno. Kedua, kebohongan itu drama yang diciptakan Ratna atas inisiatif pribadi.
Bila rekayasa tersebut murni inisiatif pribadi Ratna Sarumpaet, Nyarwi mempertanyakan mengapa kubu Prabowo-Sandi menelan mentah-mentah berita hoaks tersebut.
”Bahkan, mereka sampai menggelar jumpa pers dan meminta Kapolri mengusut tuntas kasus ini. Kalau memang seperti itu, maka ini menjadi gol bunuh diri atau blunder terburuk Prabowo dalam konteks pilpres," ujar Nyarwi, Rabu (3/10/2018).
Dia mengingatkan, hal terpenting yang bisa diambil dari kasus ini yaitu elite politik perlu belajar political digital literacy. Elite parpol perlu memperhatikan soal validitas dan akurasi data sebelum data yang diterima dibagikan kepada publik.
"Elite parpol perlu seni memahami digital literasi. Kalau nggak bisa, risikonya besar. Contoh Prabowo dalam menanggapi kasus ini," kata Post-Doctoral Research Fellow di Asia Institute, Faculty of Arts, the University of Melbourne, Australia ini.

Menurut Nyarwi, dalam konteks ini, Gerindra dinilai perlu belajar dari Partai Demokrat dalam menanggapi berita Asia Sentinel tentang tuduhan keterlibatan ketua umum partai itu di pusaran kasus Bank Century yang menghebohkan publik belum lama ini. Partai Demokrat melakukan investigasi sampai ke Hong Kong untuk menemui penulis dan narasumbernya.
”Tim Prabowo perlu belajar memverifikasi data sehingga bisa menemukan kebenarannya karena hoaks itu bisa merusak iklim demokrasi, merusak pola pikir dan citra elite itu sendiri," tutur direktur Presidential Studies-DECODE UGM itu.
Nyarwi memandang bukan tidak mungkin drama Ratna Sarumpaet ini bagian dari testing the water tim Prabowo-Sandi untuk mengevaluasi soliditas pendukungnya yang selama ini mengusung #2019GantiPresiden.

Lewat kasus Ratna, pasangan calon yang diusung Koalisi Indonesia Adil Makmur itu bisa mengetes seberapa besar orang percaya ke Prabowo. Terlebih, pilpres ini masih panjang sehingga dari situ mereka bisa untuk menyusun langkah-langkah alternatif berikutnya.
Dia kembali mengingatkan, dengan berbagai perkembangan media terutama digital, elite harus belajar menyeleksi, memverifikasi, kalau perlu melakukan investigasi dengan baik sebelum menyampaikan ke publik.
Menurutnya, apa yang disampaikan elite punya pengaruh dalam kualitas demokrasi. "Kita ingin elite meng-improve digital literacy yang baik. Apalagi kita tahu Ratna Sarumpaet ini juga menjadi pelaku elite, sebagai aktivis perempuan yang beraviliasi ke salah satu capres," katanya.
Editor: Zen Teguh