Empat Jenderal Kopassus Ini Lolos dari Maut Dalam Pertempuran Jarak Dekat, Nomor 3 Terluka Parah

Sucipto · Jumat, 05 Agustus 2022 - 07:28:00 WIB
Empat Jenderal Kopassus Ini Lolos dari Maut Dalam Pertempuran Jarak Dekat, Nomor 3 Terluka Parah
Empat Jenderal Kopassus ini berhasil lolos dari maut dalam pertempuran jarak dekat. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Sebagai satuan elite TNI AD, Kopassus selalu melahirkan prajurit yang tangguh dan bermental petarung. Tak jarang dalam berbagai operasi tempur, prajurit Kopassus harus terlibat pertarungan jarak dekat dengan musuh.

Ada sejumlah jenderal Kopassus yang memiliki kisah lolos dari maut dalam pertempuran jarak dekat. Berkat keahlian dan kemampuan yang dimiliki personelnya, Kopassus kerap diterjunkan dalam misi penting menjaga kedaulatan Republik Indonesia.

Berikut empat jenderal Kopassus yang berhasil lolos dari pertempuran jarak dekat:

1. Jenderal TNI LB Moerdani

Panglima ABRI Jenderal TNI LB Moerdani. (Foto Repro Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando)
Panglima ABRI Jenderal TNI LB Moerdani. (Foto Repro Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando)

Kisah tentang Jenderal TNI LB Moerdani tak pernah ada habisnya. Nama Benny Moerdani biasa LB Moerdani dipanggil menjadi legenda di dunia militer.

Keberaniannya sebagai prajurit sejati jauh melebihi seorang tentara biasa. Hampir tak ada palagan penting di negeri ini yang tidak didatangi Benny Moerdani.

Bahkan, nama Benny Moerdani menjadi ikon dalam operasi pembebasan Irian Barat sekarang bernama Papua pada 1962. Termasuk juga saat Operasi Ganyang Malaysia pada 1964. Di kedua palagan ini, Benny harus berhadapan dengan pasukan elite Koninklijke Mariniers, pasukan khusus Belanda dan Special Air Service (SAS), Inggris yang merupakan pemenang Perang Dunia (PD) II.

Dalam beberapa pertempuran, Benny nyaris tewas ditembak musuh. Namun, keberuntungan masih berpihak pada pria kelahiran Cepu, Blora 2 Oktober 1931 ini. Nyawa Benny Moerdani masih bisa selamat.

Dalam buku berjudul “Benny Moerdani yang Belum Terungkap” perburuan terhadap Benny oleh pasukan elite Belanda Koninklijke Mariniers bermula ketika Benny yang saat itu berpangkat Kapten bersama prajurit RPKAD kini bernama Kopassus diterjunkan dalam Operasi Naga di Irian Barat. Saat dalam perjalanan menuju pusat pertahanan Belanda di Merauke, pasukan Benny Moerdani yang sedang beristirahat di Sungai Kumbai diserang oleh Marinir Belanda.

Pertempuran jarak dekat pun tak dapat dielakkan. Benny yang tidak menduga bakal mendapat serangan mendadak tersebut, langsung berlindung dan menginstruksikan anak buahnya untuk menyelamatkan diri. Dalam penyergapan tersebut, Jenderal Kopassus ini nyaris tewas karena topi rimbanya tertembak. Beruntung, nyawanya masih bisa selamat.

Begitu juga saat konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1964. Dalam Operasi Dwikora di pedalaman belantara Kalimantan ini Benny Moerdani juga nyaris tewas. Peristiwa itu terjadi saat Benny bersama pasukannya melakukan penyusupan ke daerah musuh.

Pasukan SAS yang terkenal kehebatannya dalam berbagai palagan pertempuran di PD II mencium penyusupan Benny. Mereka kemudian menunggu di seberang sungai.

Berada di ketinggian, pasukan elite Inggris ini tinggal menunggu waktu untuk memberondong Benny dan pasukannya. Apalagi posisi Benny Moerdani berada di perahu paling depan sehingga sangat memudahkan bagi pasukan SAS mengincarnya.

Bahkan penembak jitu dan sniper pun sudah membidikan senjatanya ke arah Benny. Dari teropong sniper terlihat begitu jelas sosok Benny Moerdani. Namun anehnya, pasukan SAS tak juga melepaskan tembakan. Mereka terdiam beberapa detik, hingga akhirnya Benny dan pasukannya berhasil lolos dari maut.

2. Letjen TNI Sintong Panjaitan

Mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Letnan Jenderal TNI (Purn) Sintong Panjaitan. (Foto: Istimewa)
Mantan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Letnan Jenderal TNI (Purn) Sintong Panjaitan. (Foto: Istimewa)

Sintong Panjaitan merupakan tokoh militer dan cukup dikenal khususnya di Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang sekarang bernama Kopassus. Abituren Akademi Militer (Akmil) 1963 ini cukup kenyang dengan operasi militer.

Selama mengemban tugas operasi, ada pengalaman yang tidak bisa dilupakan Sintong. Nyawanya nyaris hilang terkena tembakan musuh saat sebutir peluru melintas di kepalanya.

Dalam buku biografinya berjudul “Sintong Panjaitan: Perjalanan Prajurit Para Komando” mantan Danjen Kopassus ini menceritakan bagaimana dirinya harus berjuang keras menundukkan kelompok pemberontak Lodewijk Mandatjan di Papua.

Saat itu, Tim RPKAD melakukan pembersihan di dalam kota Kecamatan Warmare. Siang harinya Tim RPKAD kembali ke Manokwari.

Truk yang mengangkut pasukan harus melewati daerah perbukitan yang rawan terjadi pernyergapan. Setelah berhenti di ketinggian, Tim RPKAD termasuk Sintong turun dari truk untuk melakukan orientasi medan.

Sintong duduk bersebelahan dengan Kasi I/Intelijen Korem 171/Manokwari Mayor Vordeling yang sedang merokok. Tiba-tiba mereka ditembak oleh pemberontak dari jarak dekat yang hanya berjarak 6 meter dari arah jurang.

Beruntung tembakan itu tidak mengenai kepala Sintong. Sebab pada saat bersamaan Sintong sedang menggaruk kaki yang digigit semut merah.

Editor : Rizal Bomantama

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda