Selain sektor manufaktur, realisasi investasi juga mencatat pertumbuhan 7,6 persen menjadi Rp528,7 triliun. Perkembangan tersebut diikuti pertumbuhan kredit investasi sebesar 23,20 persen dan kredit modal kerja sebesar 11,89 persen.
Wamendagri Dorong Pemda Cari Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru, Bukan Andalkan TKD
Menurut Adhamaski, peningkatan investasi dan penyaluran kredit menjadi indikator yang mendukung aktivitas ekonomi nasional, terutama melalui pembiayaan kegiatan usaha dan pengembangan kapasitas produksi.
“Realisasi investasi tumbuh 7,6% menjadi Rp528,7 triliun, diikuti pertumbuhan kredit investasi sebesar 23,20% dan kredit modal kerja 11,89%,” ungkapnya.
Dari sisi mobilitas masyarakat, perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 9,28 persen, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 4,63 persen. Peningkatan tersebut turut menggambarkan aktivitas ekonomi di sektor pariwisata dan jasa.
“Mobilitas masyarakat juga meningkat, tercermin dari pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara sebesar 9,28% dan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 4,63%,” jelas Adhamaski.
Berdasarkan perkembangan sejumlah indikator tersebut, GREAT Institute menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika perekonomian global. Adhamaski pun mempertahankan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.
“Berbagai indikator tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap resilien. Dengan perkembangan ini, GREAT Institute mempertahankan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 akan mencapai 5,3–5,6%,” pungkasnya.
Editor: Rizky Agustian