Gunung Anak Krakatau Erupsi, Mendikdasmen Buka Opsi PJJ di Daerah Terdampak
“Karena memang saya mengikuti dari BNPB, situasi yang terkait dengan dampak dari abu vulkanik ini kan masih terus dinamis karena sangat dipengaruhi juga oleh arah angin dan sebagainya, sehingga kami tidak dapat menetapkan daerah-daerah mana yang memang dia harus pembelajaran di rumah,” kata Mu'ti.
Dia menegaskan keselamatan dan kesehatan warga sekolah menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode pembelajaran.
“Jadi karena prioritas, maka kalau memang dinyatakan oleh otoritas yang berwenang bahwa daerah itu memang sangat berbahaya, ya jangan dilakukan pembelajaran di sekolah. Nah, kalau misalnya oleh otoritas dinyatakan masih memungkinkan, itu pun tetap dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat,” ucapnya.
Untuk wilayah yang masih memungkinkan menggelar pembelajaran tatap muka, sekolah diminta membatasi aktivitas di luar ruangan dan mengamankan ruang kelas dari masuknya abu vulkanik.
“Pertama, jangan banyak melakukan kegiatan di luar kelas atau bahkan mungkin dilarang sama sekali kegiatan di luar kelas seperti olahraga dan sebagainya. Yang kedua, ketika kegiatan di dalam kelas diusahakan semaksimal mungkin agar jendela, pintu, dan mungkin fasilitas lain yang memungkinkan debu masuk kelas juga dapat diamankan sehingga anak-anak dapat belajar dengan sebaik-baiknya,” kata Mu'ti.
Dia kembali menegaskan bahwa keputusan pembelajaran mengikuti kondisi serta kebijakan pemerintah daerah masing-masing.
“Jadi sekali lagi, daerah-daerah yang memang dia tidak aman, maka sangat dianjurkan untuk tidak melakukan kegiatan pembelajaran secara tatap muka di sekolah, tapi semuanya mengikuti ketentuan dari masing-masing pemerintah daerah,” tuturnya.
Editor: Aditya Pratama