HUT ke-75 TNI: Mengenal 3 Operasi Pembebasan Sandera Paling Bersejarah

Okezone, Riezky Maulana ยท Senin, 05 Oktober 2020 - 05:05:00 WIB
HUT ke-75 TNI: Mengenal 3 Operasi Pembebasan Sandera Paling Bersejarah
Tentara Nasional Indonesia(TNI) berulang tahun ke-75 pada Senin (5/10/2020) hari ini. (Foto: Antara).

Pada 31 Maret pukul 03.00 waktu setempat, operasi penyerbuan dilakukan. Sintong mengambil posisi di bawah sayap samping kiri berdekatan dengan Letda Rusman AT yang mebawa senapa serbu M16A1, sedangkan Kapten Suroso di bawah kokpit dan berlindung di bawah nose wheel. Pukul 02.40, Suroso melapor ke Sintong, semua pasukan sudah siap.

Sesuai rencana, jam “J” atau jam penyerbuan itu pukul 03.00. Begitu detik memasuki waktu ditentukan, perintah diberikan lewat handy talky. “Masuk-masuk,” kata Sintong. Operasi kilat dalam kegelapan malam itu dimulai dengan dobrakan pintu kabin pesawat. Tim Antiteror Kopassanda berteriak “Komando” untuk memberi efek gentar ke pembajak. Mereka juga meneriakkan agar penumpang berlindung.

Baku tembak terjadi. Dalam penyerbuan melalui pintu belakang saat tangga hidrolik berhasil diturunkan, Letnan Achmad Kirang menyerbu paling depan. Namun kehadirannya disambut tembakan dari pembajak. Tembakan itu mengenai perut bawah yang tidak terlindung rompi antipeluru.

Operasi kilat itu berhasil membebaskan seluruh penumpang pesawat. Dari lima pembajak, tiga tewas ditembak di luar pesawat, sedangkan dua terkapar di dalam pesawat namun masih bernapas. Tak berapa lama mereka juga tewas.

Dari TNI, Letnan Achmad Kirang gugur dalam perawatan di RSAU Bhumibol, Bangkok. Begitu pula pilot Herman Rante juga meninggal dunia di rumah sakit sama karena luka tembak. Mereka dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Operasi pembebasan sandera ini ini disiarkan luas oleh berbagai media di dunia.

2. Operasi MV Sinar Kudus, Somalia.
Kapal Sinar Kudus berisi empat warga negara Indonesia (WNI) dan 22 orang lain dibajak di Kepulauan Seychelles, Somalia. Operasi pembebasan memakan proses yang begitu panjang ketika itu. Bagi pemerintah Indonesia dan TNI, operasi pembebasan di laut ini merupakan operasi jarak jauh pertama yang dilakukan.

Kapal kargo Sinar Kudus yang dibajak perompak di Somalia. (Foto: Sindonews/Ist).
Kapal kargo Sinar Kudus yang dibajak perompak di Somalia. (Foto: Sindonews/Ist).

Kabar pembajakan kapal berbendera Indonesia segera ditanggapi pemerintah. Presiden SBY langsung menggelar rapat terbatas, dan memutuskan kapal dan anak buah kapal harus dibebaskan. Negosiasi dengan pembajak menjadi pilihan sambil menyiapkan operasi militer.

”Operasi militer menjadi tanggung jawab TNI, Panglima TNI saat itu Laksamana Agus Suhartono segera menyiapkan pasukan khusus TNI AL, Detasamen Jala Mangkara (Denjaka) untuk menjalankan tugas pembebasan kapal,” kata Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Suhartono kepada tim Dispenad, belum lama ini. Saat pembajakan itu terjadi, Suhartono merupakan komandan Denjaka.

Operasi pembebasan ini didukung oleh pasukan elit TNI, seperti dari Den Jaka, Sat-81/Gultor, Batalyon Inti Amphibi, Kopaska, 4 Sea Riders, dan Frigate. Pada saat mendekat ke Perairan Somalia, tim penyelamat melakukan pengamatan permukaan dan udara yang dimulai dengan jarak 400 mil, hingga jarak 20 mil dengan terus mengikuti perkembangan komunikasi radio dengan satuan- satuan lain dari mancanegara yang beroperasi di perairan itu.

Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2 3