Ikatan Pemulung Indonesia Protes Larangan Plastik oleh Pemerintah

Antara ยท Kamis, 21 November 2019 - 15:28 WIB
Ikatan Pemulung Indonesia Protes Larangan Plastik oleh Pemerintah

Pemulung memilah sampah plastik dari tumpukan sampah (ilustrasi). (Foto: iNews.id/Dok.)

JAKARTA, iNews.id – Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) memprotes kebijakan pemerintah yang melarang penggunaan botol dan kantong plastik sekali pakai. Larangan itu dikhawatirkan mengancam sumber pendapatan 3,7 juta pemulung di 25 provinsi.

Ketua Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Pris Polly Lengkong menyatakan, kebijakan pelarangan botol dan kantong plastik oleh sejumlah kementerian tidak berdasarkan kajian yang menyeluruh. “Saya tidak habis mengerti dengan pelarangan botol plastik dan kantong plastik oleh beberapa kementerian. Mengapa harus memusuhi plastik? Apa ada yang salah dari plastik?” ujarnya di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Menurut dia, sampah plastik tidak akan menimbulkan masalah jika manusianya terbiasa untuk taat aturan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, bahkan kala bisa menggunakannya kembali atau mendaur ulang. “Yang salah itu manusianya yang membuang sampah plastik sembarangan. Kalau saja manajemen sampah diperbaiki, tidak akan ada masalah dengan plastik,” tuturnya.

Pris Polly mengatakan, pelarangan penggunaan botol plastik dan kantong plastik di sejumlah kementerian bakal mengancam kehidupan para pemulung yang selama ini mendapatkan penghasilan dari memulung sampah berbahan plastik. Menurut dia, betapa banyak manusia yang derajat kehidupannya meningkat karena menjadi pemulung plastik. Apakah pemerintah memikirkan nasib mereka?

“Saya membuktikan sendiri bahwa sebagian pemulung, yang tadinya berdagang soto atau berdagang kelontong, justru memilih menjadi pemulung untuk mengubah nasibnya. Justru menurut pengakuan mereka, kesejahteraannya meningkat setelah menjadi pemulung. Ini bukti bahwa ada manfaat ekonomi yang besar di balik sampah plastik,” ucap Pris.

Menurut dia, besar pendapatan yang diperoleh pemulung bervariasi, mulai dari pemulung kampung yang pendapatannya rata-rata Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari. “Untuk pemulung yang sudah menjadi pelapak, pendapatan bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per hari,” ungkapnya.

Pris pun mengaku mendapat keuntungan yang besar dari pekerjaannya sebagai pemulung. Meski tidak mengakui secara pasti, Pris disebut-sebut memiliki pendapatan hingga Rp100 juta sebulan. “Padahal modal awal saya pertama kali menjadi pemulung hanya Rp750.000. Tapi lihat sendiri, saya sudah memiliki peningkatan kesejahteraan sekarang,” ujar putra dari artis Catty Lengkong itu.

Tuti Karyati, seorang pemulung dari Cempaka Putih, Jakarta Pusat, juga mengakui dampak ekonomi dari daur ulang botol plastik. “Saya setiap hari memulung botol plastik dan gelas plastik, dimana saja di tempat yang saya lewati. Dan saya gunakan botol dan gelas plastik hasil memulung itu untuk dijadikan kerajinan tangan,” ujar Tuti.

Ia mengaku bisa menghasilkan satu kerajinan tangan dari setiap 10 tutup gelas plastik. “Saya bisa menjual hasil kerajinan tangan itu Rp10.000 per buah,” tuturnya.

Tuti mengatakan bahwa apa yang ia dapat dari hasil memulung cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Saat ini, banyak temannya sesama pemulung yang sangat bergantung pada sampah botol plastik. Dia mengaku sangat khawatir bila kebijakan pelarangan botol diberlakukan di semua kantor, lembaga, dan sekolah.

“Bagaimana nanti kami mendapatkan botol dan gelas plastik bekas untuk kami menyambung hidup?” ujarnya.

Dia mengakui saat ini sudah terdampak dari kebijakan pelarangan penggunaan botol plastik di sebuah sekolah di dekat rumahnya. Sejak sekolah itu berganti kepala sekolah dan melarang murid membawa botol plastik ke sekolah. “Saya kehilangan salah satu tempat untuk mencari sampah plastik,” kata Tuti lirih.

Perempuan itu berharap pemerintah dan semua pihak terkait memahami betapa pentingnya sampah botol plastik bagi pemulung.

Editor : Ahmad Islamy Jamil