Indonesia Harus Siap Hadapi Kemungkinan Buruk akibat Perang di Iran, Persatuan Nasional Jadi Kunci
Indonesia dalam Tekanan yang Sama
Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak, gas, dan bahan baku pupuk, Indonesia tidak kebal terhadap dampak krisis ini. Lonjakan harga energi meningkatkan biaya subsidi energi dan menekan anggaran negara.
Di sisi lain, kenaikan harga energi dapat memicu inflasi domestik melalui biaya transportasi, produksi, dan pangan. Bank Indonesia pun menghadapi dilema yang sama: menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi atau mempertahankannya demi menjaga pertumbuhan ekonomi.
Dengan kata lain, krisis Iran menempatkan banyak negara—termasuk Indonesia—dalam skenario mimpi buruk ekonomi global.
Ketahanan Ekonomi Dunia
Meski demikian, sejarah menunjukkan ekonomi global memiliki kapasitas untuk bertahan dari guncangan besar. Dunia telah melewati berbagai krisis besar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Pengalaman ini memberi sedikit ruang optimisme. Sistem ekonomi dunia memiliki mekanisme adaptasi yang cukup kuat untuk menyerap guncangan besar. Namun optimisme tersebut memiliki syarat penting: krisis tidak berlangsung terlalu lama.
Masalahnya, konflik Iran saat ini menunjukkan sedikit tanda akan mereda. Situasi semakin kompleks setelah munculnya kepemimpinan baru di Teheran, yaitu Mojtaba Khamenei, yang dikenal memiliki pandangan lebih keras dibanding ayahnya. Dalam konteks politik domestik Iran, menyerah dari agresi dan bombardemen AS dan Israel bukanlah pilihan.
Sementara di Washington, arah strategi juga belum jelas. Inilah yang membuat masa depan krisis ini sangat sulit diprediksi.
Jika konflik berlarut-larut, dunia tidak hanya menghadapi lonjakan harga energi, tetapi juga potensi resesi global yang lebih luas. Namun jika perang dapat segera diredakan, ekonomi dunia mungkin masih mampu menyerap guncangan tersebut dengan gangguan yang relatif terbatas.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah dunia mampu bertahan, tapi berapa lama konflik ini akan berlangsung? Dan berapa besar biaya yang harus dibayar oleh ekonomi global sebelum perdamaian kembali tercapai?
Di titik inilah arahan Presiden Prabowo bahwa kita harus senantiasa bersiap menghadapi kesulitan ke depan menjadi sangat relevan. Persatuan nasional dan kesiapan menghadapi tantangan global adalah kunci agar Indonesia mampu melewati badai ekonomi dunia dengan lebih aman.
Editor: Maria Christina