Ini Konstruksi Hukum 3 Tersangka Dugaan Suap Penanganan Perkara di PN Jakbar

Ilma De Sabrini ยท Sabtu, 29 Juni 2019 - 20:32 WIB
Ini Konstruksi Hukum 3 Tersangka Dugaan Suap Penanganan Perkara di PN Jakbar

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif. (Foto: iNews.id/ Ilma Desabrini).

JAKARTA, iNews.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tiga tersangka terkait dugaan suap penanganan perkara di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat (Jakbar). Penetapan tiga tersangka itu merupakan tindak lanjut dari penangkapan terhadap lima orang di Jakarta pada Jumat (28/6/2019).

Ketiga tersangka itu, AVS (Alvin Suherman) dan SPE (Sendy Perico) yaitu pihak yang berperkara diduga sebagai pemberi. Kemudian AWN, (Agus Winoto) yaitu Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta diduga sebagai penerima.

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengatakan, konstruksi perkara tersebut berawal pengusaha bernama Sendy Perico melaporkan pihak lain dengan tuduhan penipuan melarikan uang investasi sebesar Rp11 miliar. Sebelum tuntutan dibacakan, Sendy Perico dan Alvin menyiapkan uang untuk diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"Uang ini diduga ditujukan untuk memperberat tuntutan kepada pihak yang menipunya," ujar Laode dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Sabtu (29/6/2019).

Namun, proses persidangan tengah berlangsung, Sendy dan pihak yang dia tuntut memutuskan untuk berdamai. Setelah proses perdamaian rampung, pada 22 Mei 2019, pihak yang dituntut meminta kepada Sendy agar tuntutannya hanya satu tahun.

"AVS kemudian melakukan pendekatan kepada JPU melalui seorang perantara. Sang perantara kemudian menginformasikan kepada AVS bahwa rencana tuntutannya adalah selama dua tahun. AVS kemudian diminta menyiapkan uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian jika ingin tuntutannya berkurang menjadi satu tahun," ucapnya.

BACA JUGA:

KPK Tetapkan 3 Tersangka terkait Dugaan Suap Penanganan Perkara di PN Jakbar

KPK Tangkap 5 Orang, Termasuk 2 Jaksa dan Pengacara

Menurutnya, Alvin dan Sendy menyanggupi permintaan tersebut dan berjanji menyerahkan sejumlah syarat itu pada Jumat, 28 Juni 2019 karena pembacaan tuntutan akan dilakukan pada Senin, 1 Juli 2019.

Kemudian pada Jumat pagi, Sendy menuju salah satu bank dan meminta RSU (Ruskian Suherman) dari swasta mengantar uang ke Alvin di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Kelapa Gading. Pukul 11.00 WIB SSG (Sukiman Sugita) yaitu pengacara mendatangi Alvin di tempat yang sama untuk menyerahkan dokumen perdamaian.

"Setelah itu, masih di tempat yang sama, pukul 12.00 WIB, RSU mendatangi AVS untuk menyerahkan uang Rp200 juta yang ia bungkus dalam sebuah kantong kresek berwarna hitam," katanya.

Dia menambahkan, Alvin kemudian menemui YHE (Yadi Herdiyanto) yaitu Kasubsi Penuntutan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta di kompleks perbelanjaan yang sama untuk menyerahkan kantong kresek berwarna hitam diduga berisi uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian. Setelah diduga menerima uang, Yadi menuju Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menggunakan taksi.

"Dari YHE, uang diduga diberikan kepada AGW sebagai Aspidum yang memiliki kewenangan untuk menyetujui rencana penuntutan dalam kasus ini," ucapnya.


Editor : Kurnia Illahi