Jeda Keraguan: Jalan Menghadapi Pabrik Realitas Buatan Deepfake
Terhadap klarifikasi ini, tanggapannya minim. Tak sebanding dengan tayangan manipulasinya. Minimnya tanggapan mungkin disebabkan persepsi yang sudah telanjur terbentuk. Persepsi yang cocok dengan harapan mental, yang ketika dikoreksi sering menyebabkan ketidaknyamanan. Khalayak enggan beranjak dari kenyamanan mentalnya, walaupun palsu.
Padel, Budaya Populer Hasil Negosiasi di Media Sosial
Hari ini, deepfake yang mengkloning tokoh publik seperti Purbaya sangat kerap beredar. Intensif pula Presiden Prabowo Subianto dengan gaya pidatonya yang berapi-api, berikut pejabat-pejabat populer lainnya, ditampilkan di media sosial.
Popularitas tokoh dalam pandangan khalayak bisa terbentuk karena berhasil membebaskan dari keresahan. Namun ada pula yang populer, justru karena kerap menciptakan keresahan. Terlepas dari penyebab popularitas maupun perilaku tokoh yang mengundang produksi dan distribusi deepfake, unggahan manipulatif semacam ini mengganggu. Ia menghalangi kesertamertaan munculnya rasa percaya terhadap realitas yang terbentuk oleh informasi. Dibutuhkan "jeda keraguan" untuk memastikan yang disaksikan adalah unggahan yang merepresentasikan realitas, alih-alih deepfake yang memanipulasinya.
Kerapnya media sosial digunakan sebagai wadah unggahan produk AI menyebabkan Merriam-Webster menjadikan "SLOP" sebagai "2025 Word of the Year". Ini merepresentasikan perspektif lembaga itu dalam memandang relasi khalayak dunia yang kerap memanfaatkan unggahan-unggahan sampah: palsu, remeh, dan dangkal. Karenanya, pers yang kuat diperlukan menjadi pembersih realitas dari sampah peradaban. Utamanya menyembuhkan khalayak dari sakit mentalnya, perlu jeda keraguan untuk memahami realitas.
Maryam Sorkhou (2026), dalam "Rebuilding Epistemic Trust in an AI-Mediated Internet", mengungkap keresahan yang senada. Gejala makin kerapnya kehadiran produk-produk AI yang termediasi internet dan bertujuan memanipulasi menjadi perhatiannya.
Dalam uraian pembukaannya disebutkan, merupakan permasalahan besar ketika material yang termediasi internet cukup otentik untuk dipercaya. Pencahayaan yang sempurna, suara yang familiar, bahkan intonasi yang tepat. Baru kemudian disadari, yang disaksikan adalah deepfake.
Kerusakan akibat termanipulasi ini bukan disebabkan oleh kebohongan yang akhirnya terkuak, melainkan ketidakpastian yang ditimbulkannya. Ketika apa pun bisa tampak benar, semuanya mulai terasa tidak stabil.