JPU Sebut Istri Imam Nahrawi Gunakan Dana Satlak Prima untuk Desain Renovasi Rumah Pribadi

Riezky Maulana ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 15:56 WIB
JPU Sebut Istri Imam Nahrawi Gunakan Dana Satlak Prima untuk Desain Renovasi Rumah Pribadi

Dakwaan mantan Menpora, Imam Nahrawi dalam perkara dana hibah Kemenpora kepada KONI dibacakan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (14/2/2020). (Foto: iNews.id/ Riezky Maulana).

JAKARTA, iNews.id - Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan dakwaan terhadap mantan Menpora Imam Nahrawi dalam persidangan perkara suap dana hibah dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Jumat (14/2/2020). Nama istri Imam Nahrawi disebut dalam dakwaan tersebut menggunakan uang Rp2 miliar berasal dari anggaran Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) untuk membayar desain renovasi rumah pribadi.

Shobibah Rohmah disebut ingin merenovasi rumah pribadi Imam Nahrawi di Cipayung, Jakarta Timur menggunakan jasa kantor Budipradono Architecs dengan perjanjian biaya pengerjaan sebesar Rp700 juta pada 9 Juli 2015. Pembayaran dibagi menjadi 4 termin, yaitu Rp200 juta, Rp300 juta, Rp150 juta dan Rp50 juta.

"Sekitar awal 2015 di Pacific Place Mall, dibicarakan Shobibah Rohmah (istri terdakwa) berminat menggunakan jasa kantor Buripradono Architecs untuk mendesain rumah milik terdakwa," ujar JPU, Muhammad Riduan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Setelah termin 1, Shobibah meminta agar Intan Kusuma Dewi dari kantor arsitek berkoordinasi dengan asisten pribadi Imam Nahrawi, Miftahul Ulum. September 2016, Shobibah meminta dibuatkan desain interior Hatice Boutique and Cafe di Kemang mencapai Rp300 juta sedangkan biaya jasanya Rp90 juta, namun pengerjaan ini tidak dituangkan dalam kontrak dan hanya berdasar saling percaya saja.

Kemudian, Oktober 2016, Miftahul Ulum menghubungi Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) Program Indonesia Emas (Prima) Lina Nurhasanah dan meminta uang sejumlah Rp2 miliar untuk membayar Omah Bapak.

Saat itu, Lina sempat menolak. Setalah didesak Miftahul Ulum Lina kemudian menyiapkan uang Rp2 miliar dari dana akomodasi atlet pada anggaran Satlak Prima.

Uang Rp2 miliar diserahkan staf Lina bernama Alverino Kurnia pada 12 Oktober 2016 kepada Intan Kusma Dewi di kantor Budipradono Architecs dan dibuatkan tanda terimanya.

Selain itu, Shohibah pada Mei 2019 masih meminta Budiyanto Pradono dari kantor Budipradono Architecs untuk mendesain asrama untuk santri, pendopo dan lapangan bulu tangkis di tanah seluas 3.022 meter persegi di Cipedak, Jagakarsa.

"Atas permintaan tersebut Juli 2019, tim dari Kantor Budipradono Architects mengecek lokasi yang rencananya dibangun asrama untuk santri, pendopo dan lapangan bulu tangkis, sesuai permintaan Shobibah Rohmah dengan biaya jasa desain arsitektur awal (preliminary) yang telah dikerjakan sebesar Rp285.268.200,00 dari biaya jasa desain arsitektur keseluruhan sejumlah Rp815.052.000,00 yang mana pembayarannya juga menggunakan uang sejumlah Rp2.000.000.000,00 yang sudah diterima oleh Kantor Budipradono Architecs," ucapnya.

Satlak Prima keberadaannya diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2010 Tentang Program Indonesia Emas. Organisasi ini bertugas memantau program pelatihan yang diselenggarakan pengurus cabang olahraga dan mempersiapkan atlet yang akan diberangkatkan ke berbagai kejuaraan di tingkat nasional, internasional, single event dan multi event.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) lalu membubarkan Satlak Prima pada Oktober 2017 untuk memangkas birokrasi di bidang olahraga demi peningkatan prestasi atlet.


Editor : Kurnia Illahi