Kapolri Dicecar soal Pengakuan Luthfi Demonstran, PKS: Anak STM Pak Disetrum, Gimana Ceritanya

Felldy Utama ยท Kamis, 30 Januari 2020 - 13:20 WIB
Kapolri Dicecar soal Pengakuan Luthfi Demonstran, PKS: Anak STM Pak Disetrum, Gimana Ceritanya

Anggota Komisi III DPR Fraksi PKS, Aboe Bakar Al Habsyi. (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Sejumlah anggota Komisi III DPR mencecar Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz terkait pengakuan Luthfi Alfiandi, demonstran pembawa bendera. Luthfi mengaku disiksa dengan disetrum agar mengaku telah melempari batu ke petugas pada saat unjuk rasa "Reformasi Dikorupsi" di Jakarta pada September 2019.

Anggota Komisi III DPR Fraksi PKS, Aboe Bakar Al Habsyi meminta pengakuan Luthfi soal adanya penyiksaan yang dilakukan penyidik dapat menjadi perhatian serius. Dia mengaku heran mengapa kekerasan fisik bisa terjadi kepada Luthfi yang merupakan pelajar.

"Anak STM Pak disetrum, ini pengakuan yang disampaikan di depan persidangan. Tentunya saya pikir, ini harus jadi atensi. Masa anak STM disetrum, gimana ceritanya, kenapa terjadi seperti ini. Saya pikir tolong beri penjelasan khusus dan ini sudah kena teguran tidak humanis," tuturnya.

Hal itu disampaikan Aboe dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis beserta jajarannya di ruang rapat Komisi III, DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (30/1/2020).

Anggota Komisi III Fraksi Nasdem, Taufik Basari mengingatkan Kapolri terkait Indonesia sudah meratifikasi 'Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment' melalui UU No. 5 Tahun 1998.

Menurut dia, dengan ratifikasi konvensi tersebut artinya negara berkewajiban untuk menjamin tidak adanya lagi praktik penyiksaan dan harus berani menindaklanjuti secara hukum jika ternyata masih ditemukan penyiksaan.

Pria yang akrab disapa Tobas ini juga meminta kepada Idham untuk membuka hasil temuan dari tim khusus bentukannya terkait pengusutan kekerasan penyiksaan yang dialami Luthfi.

"Saya dengar Kapolri telah bentuk tim propam, saya mohon apapun temuannya mohon dibuka secara luas. Jika pun ada kejadian tanpa ada upaya untuk lindungi oknum jika ada. Kita harus tegas karena kita sudah meratifikasi konvensi menentang penyiksaan tersebut," kata Tobas.

Sebelumnya, Luthfi ketika menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 20 Januari 2020 mengungkapkan sempat disiksa oknum polisi saat dimintai keterangan. Lutfi mengatakan, dipaksa mengaku melempari polisi yang berjaga saat demonstrasi di sekitar Gedung DPR dengan cara disetrum.

Lutfhfi didakwa tiga pasal alternatif oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Pertama, dijerat Pasal 212 jo 214 ayat (1) KUHP karena dinilai melakukan kekerasan terhadap pejabat pemerintah yang bertugas secara sah (polisi) yang pengamanan aksi yang diikuti oleh Luthfi.

Kedua, dijerat Pasal 170 ayat (1) KUHP terkait penggunaan kekerasan terhadap satu orang atau barang. Ketiga dijerat Pasal 218 KUHP karena tetap berkerumun saat sudah diperingati oleh polisi yang bertugas.

Editor : Djibril Muhammad