Kasus Suap Imam Nahrawi, Sesmenpora Dicecar soal Regulasi Dana Hibah ke KONI

Ilma De Sabrini ยท Selasa, 24 September 2019 - 20:27 WIB
Kasus Suap Imam Nahrawi, Sesmenpora Dicecar soal Regulasi Dana Hibah ke KONI

Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), Gatot S Dewa Broto. (Foto: iNews.id/Ilma De Sabrini)

JAKARTA, iNews.id – Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), Gatot S Dewa Broto, hari ini diperiksa penyidik KPK hampir tujuh jam lamanya. Selama pemeriksaan tesebut, Gatot mengaku dicecar penyidik soal regulasi pemberian dana hibah dari Kemenpora kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Gatot dipanggil sebagai saksi untuk asisten pribadi Imam Nahrawi, Mifthul Ulum, yang juga berstatus tersangka dalam kasus suap terkait dana hibah itu. Pemeriksaan hari ini merupakan yang kedua kalinya bagi Gatot. Sebelumnya, dia diperksa pada Juli lalu.

“Saya hanya diperiksa kapasitasnya untuk menjelaskan regulasi aturan tentang hibah boleh atau tidak, tanggung jawab Sesmenpora itu seperti apa. Kemudian, gimana alur anggaran. Seandainya KONI membutuhkan dana. Pertanyaannya seputar regulasi,” ujar Gatot di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (24/9/2019).

Gatot menepis tudingan adanya budaya kick back (pemberian jatah suap dari dana yang telah dihibahkan ke pihak lain) di tubuh Kemenpora. Dia pun menegaskan, penyidik tidak menanyakan soal penerimaan uang yang diduga diterima oleh mantan Menpora Imam Nahrawi.

“Saya tidak terima bahwa ada budaya kick back di Kemenpora. Saya pernah jadi deputi IV selama satu tahun, jadi awal 2016-2017, dan alhamdulilah di sana juga tidak ada budaya kick back,” ucapnya.

BACA JUGA: Jadi Plt Menpora, Hanif Dhakiri Prihatin dengan Imam Nahrawi

Gak ada konfirmasi seperti soal penerimaan uang. Pak Imam Nahrawi, Menpora enggak pernah minta uang ke saya,” katanya.

Dalam kasus ini, mantan Menpora Imam Nahrawi ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan Miftahul Ulum pada 18 September 2019. Nahrawi diduga meminta uang Rp11,8 miliar dalam rentang waktu 2016-2018, sehingga total dugaan penerimaan sebesar Rp26,5 miliar.

Uang itu merupakan commitment fee (jatah suap) atas pengurusan proposal hibah yang diajukan oleh KONI kepada Kemenpora Tahun Anggaran 2018. Sementara, Miftahul Ulum diduga turut membantu Nahrawi dalam penerimaan uang haram tersebut.

Para tersangka dikenakan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 atau Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tlndak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.


Editor : Ahmad Islamy Jamil