Keberanian untuk Mengakui, Kekuatan untuk Memperbaiki
Dirgayuza Setiawan, B.A., M.Sc.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan
PAGI ini, mendengarkan paparan Mas Sudaryono tentang 100 hari memimpin Badan Gizi Nasional, saya menjadi saksi sesuatu yang langka: seorang pejabat yang bersedia membuka kekurangan lembaganya sendiri.
Di hadapan sebuah program besar, betapa mudahnya memilih hanya memperlihatkan keberhasilan. Mengisi layar dengan angka penerima manfaat. Menampilkan foto anak-anak tersenyum. Lalu membiarkan bagian yang menyakitkan tinggal di belakang layar.
Namun, paparan pagi ini justru membawa persoalan itu ke hadapan kami.
Ada dapur yang tidak layak. Ada pengadaan yang dipersoalkan. Ada uang rakyat yang bocor. Ada pengawasan yang lemah. Bahkan, ada pengakuan bahwa lembaga ini pernah bekerja sendirian dan antikritik.
Saya membayangkan betapa tidak nyamannya menyampaikan semua itu dari kursi seorang kepala badan. Ketika kita membuka kekurangan lembaga yang kita pimpin, kita juga membuka diri untuk dipertanyakan.
Di situlah saya menemukan arti kerendahan hati.
Humility dalam jabatan menuntut kesediaan menerima bahwa kewenangan tidak membuat seseorang selalu benar. Bahwa kritik bisa mengandung kebenaran. Bahwa orang tua yang marah, guru yang khawatir, dan masyarakat yang mengeluh layak didengarkan, sekalipun suara mereka membuat kita tidak nyaman.