Kepala BNPB Ajak Semua Pihak Bahu-Membahu Antisipasi Bencana

Cornelia Zenia, Riezky Maulana ยท Rabu, 18 Desember 2019 - 04:00 WIB
Kepala BNPB Ajak Semua Pihak Bahu-Membahu Antisipasi Bencana

Kepala BNPB Doni Monardo memberikan sambutan saat rapat koordinasi penanganan bencana di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (17/12/2019). (Foto: iNews.id/Riezky Maulana).

JAKARTA, iNews.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar rapat koordinasi tanggap darurat bencana untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem. Rakor melibatkan sejumlah instansi mulai kementerian, TNI, Polri, BMKG, Basarnas, pemerintah daerah, badan usaha, dan lembaga swadaya masyarakat.

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, negara wajib melindungi rakyat dan tumpah darah Indonesia karena keselamatan rakyat merupakan hal utama. Melindungi rakyat tidak bisa dilakukan sendiri, namun oleh semua.

"Saya ingin mengutip sebuah pernyataan dalam bahasa Latin, salus populi suprema lex, yang artinya keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi," kata Doni dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana yang diadakan di Ruang Serba Guna Sutopo Purwo Nugroho, Graha BNPB Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Doni mengatakan, BNPB sudah mempersiapkan diri dalam menghadapi musim penghujan yang bisa menimbulkan sejumlah bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin puting beliung. Terlebih pada 2019 ini telah terjadi sejumlah bencana di berbagai daerah yang menimbulkan korban jiwa dan luka.

Berkaitan dengan hal tersebut, Doni mengajak seluruh pihak terkait untuk bahu-membahu dalam menghadapi kemungkinan bencana yang akan terjadi ke depan. Bagaimana pun penanganan bencana tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.

"Kita bahu-membahu, menyiapkan segala hal yang berhubungan kesiapsiagaan menghadapi banjir, tanah longsor, termasuk angin puting beliung sehingga setiap daerah baik tingkat kabupaten atau kota sampai dengan provnsi bisa saling terintegrasi," ujarnya.

Sementara itu Deputi Bidang Metereologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo megnatakan, luasnya daerah Indonesia menyebabkan kondisi iklim dan cuaca di Indonesia tidak merata antara satu daerah dengan lainnya. Kondisi tersebut sangat bervariasi dan mudah terpengaruh keadaan di sekitarnya.

Mulyono mengatakan, intensitas bencana banjir, tanah longsor, dan gelombang tinggi meningkat sejak Desember 2019 dan diperkirakan bakal berlangsung hingga awal Maret 2020.

"Kemudian kejadiannya agak mereda mendekati pertengahan Maret. Tetapi kejadian yang terjadi adalah angin dengan hembusan kuat, petir, dan angin puting beliung," ucapnya.

Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau dari Juni sampai dengan Agustus 2019. "Kejadian-kejadian yang mungkin muncul adalah adanya kekeringan, kebakaran hutan lahan, dan gelombang tinggi.

Editor : Zen Teguh