Kepala BPIP Nilai Puasa Bisa Dimaknai dengan Menahan Diri Tak Mudik saat Corona

Antara ยท Sabtu, 25 April 2020 - 07:41:00 WIB
Kepala BPIP Nilai Puasa Bisa Dimaknai dengan Menahan Diri Tak Mudik saat Corona
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi. (Foto: Antara).

JAKARTA, iNews.id - Puasa dinilai memiliki manfaat dalam banyak aspek yang secara lebih jauh bisa dimaknai sebagai bagian dari membangun peradaban. Berpuasa bisa bermakna membangun peradaban jika kemampuan menahan diri bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi dalam kegiatan Jumat Bersama BPIP bertajuk, Puasa = Membangun Peradaban melalui virtual, Jumat (24/4/2020).

"Hikmah puasa ini banyak sekali, dari media banyak, kesehatan dan seterusnya. Puasa itu menahan diri, al imsaku artinya menahan diri. Intinya self control," ujar Yudian.

Dia menuturkan, hikmah puasa dalam membangun peradaban bisa dikaitkan dengan tradisi mudik masyarakat setiap lebaran. Tradisi tersebut dinilai mampu menggerakkan berbagai sektor, khususnya ekonomi dengan pergerakan masyarakat dari kota ke desa.

"Mampu menahan diri untuk tidak melanggar aturan, misalnya pejabat mampu menahan diri untuk tidak korupsi. Jika dikalikan, misalnya 1.000 atau 100 ribu pejabat mampu tidak korupsi," ucapnya.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menjelaskan, kondisi sekarang berbeda karena Indonesia tengah menghadapi wabah virus corona (Covid-19). Kondisi tersebut yang membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik Lebaran 2020.

Apalagi, kata dia wabah virus corona memakan banyak korban sehingga harus diputus mata rantai penyebarannya. Dengan menahan diri untuk tidak mudik sekarang ini, sebenarnya masyarakat juga membangun peradaban, namun secara terbalik dengan tradisi mudik sebelumnya.

Masyarakat, khususnya umat Islam, semestinya bisa menerapkan makna puasa, yakni menahan diri dengan tidak mudik saat Indonesia dilanda wabah virus corona.

"Kalau dalam konteks hukum Islam, mana yang harus didahulukan? Menyelamatkan jiwa, yakni tidak mudik untuk memutus Covid-19, daripada harta, maksudnya ekonomi tadi dan pengampunan sosial," ucapnya.

Berita Lain Bisa Dibaca di Sindonews.com: Ibadah Tak Hanya Ritual di Masjid

Editor : Kurnia Illahi