Ketika Algoritma Bertemu Intuisi Insinyur: Kisah PHR Mengelola Defisit Energi di Blok Rokan
Ketika sistem mendeteksi power shortage (kekurangan daya)—seperti yang terjadi saat suplai gas drop—sistem secara otomatis memutus beban berdasarkan prioritas. Dimulai dari Level 1 (beban non-esensial) hingga bertahap ke Level 10 (beban paling kritis). Level tertinggi (Level 10) adalah benteng terakhir: Gathering Station (GS) dan sumur-sumur dengan produksi tertinggi.
"Secara sistem, prioritas pemadaman otomatis ini bekerja hingga level feeder (jaringan). Sistem langsung memilah mana jaringan dengan produktivitas terendah yang harus dilepas duluan demi menyelamatkan jaringan vital. Ini pertimbangan safety dan ekonomi yang berjalan dalam hitungan detik," tutur Winarto.
Namun, mesin hanya bisa bekerja sesuai algoritma. Ketika krisis berkepanjangan dan variabel lapangan berubah dinamis, di sinilah "otak manusia" mengambil alih. Aktivasi IMT dan "Otak" Strategi PRIME Segera setelah indikator pasokan gas menunjukkan penurunan drastis pada awal Januari, manajemen PHR langsung mengaktifkan IMT (Incident Management Team).
Aktivasi struktur komando darurat ini adalah prosedur standar untuk memastikan seluruh lini operasi tunduk pada satu komando terpusat, sehingga keputusan dapat diambil secara cepat dan terukur di tengah situasi yang berubah hitungan menit. Di bawah payung IMT inilah strategi pemulihan dijalankan.
Jika sistem otomatis adalah "autopilot", maka Fungsi PRIME (Production Reliability & Innovation Management) bertindak sebagai ATC (Air Traffic Control), dirigen yang mengorkestrasi operasi agar tetap berproduksi secara optimal.