Ketua Umum IJTI: Pers Indonesia Jangan Anti-Kritik

Tri Hatnanto ยท Kamis, 06 Desember 2018 - 16:20:00 WIB
Ketua Umum IJTI: Pers Indonesia Jangan Anti-Kritik
Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yadi Hendriana. (Foto: iNews.id/dok)

JAKARTA, iNews.id - Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yadi Hendriana mengingatkan kepada organisasi pers di Indonesia, terutama IJTI agar tidak marah dengan kritik yang ditujukan kepada mereka. Kritik harus dijadikan bahan evaluasi untuk mengembangkan atau meningkatkan kompetensi.

Pers Indonesia, dalam hal ini IJTI, tidak boleh cengeng atau marah dengan kritik. Kita sebagai insan pers justru harus menjadikan kritik itu sebagai bahan evaluasi dan tugas kita untuk melakukan pengembangan atau meningkatkan kompetensi supaya tidak seperti yang dituduhkan,” kata Yadi di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Pernyataan Yadi merespons kritik yang dilontarkan oleh sejumlah pihak mengenai pelaksanaan Reuni 212. Pers dituding tidak adil karena tak keseluruhan meliput peristiwa tersebut.

Yadi mengingatkan, pers harus tetap memiliki sikap fairness, berintegritas, dan terus menjunjung tinggi kode etik jurnalistik. Dalam bekerja, pers hanya punya satu orientasi yaitu kepentingan publik.

Diakui atau tidak, kata dia, pers di Indonesia masih banyak memiliki kelemahan. Karena itu, semua anggota IJTI dituntut untuk terus mengembangkan diri demi menyongsong masa depan.

”Dan membuktikan bahwa mereka bisa berkarya untuk kebaikan masyarakat luas, bukan kepentingan sesaat atau satu kelompok,” kata Yadi.

Belajar dari pengalaman tersebut, Yadi pun mengingatkan bagaimana Pemilihan Presiden Amerika Serikat berjalan. Donald Trump saat itu melemparkan kritik keras (bahkan banyak yang menyebutnya sebagai penghinaan) terhadap pers Amerika.

Apa reaksi pers/jurnalis negara Paman Sam? Mereka tidak marah. Mereka sadar betul profesi jurnalis merupakan tempat orang-orang profesional bekerja dan bergantungnya harapan publik.

Media-media terkenal di AS sadar sepenuhnya bahwa pers di AS sempat terdampar pada situasi yang cukup buruk. Saat itu indeks kebebasan pers mereka turun ke peringkat 41, dampak dari Gedung Putih sebelum era Trump yang sempat “menutup diri” terhadap pers karena dianggap banyak mengecam kebijakan ekonomi Obama.

Menurut Yadi, kondisi tak jauh beda juga terjadi dengan negara-negara maju lainnya. Pers selalu menjadi lemparan kritik. Tetapi, kritik itu semestinya menjadi cambuk dan obat untuk autoktritik.

Yadi mengingatkan, pers merupakan profesi yang setiap hari butuh pengembangan diri. Pers ibarat perahu yang kalau rusak atau bocor maka seluruh penumpangnya akan tenggelam bersama. Apalagi, praktik-praktik tidak profesional banyak dilakukan oleh sebagian pers.

”Perlawanan kita bukan mengecam karena kita dikritik, tetapi kita harus bangkit dan memperbaiki diri. IJTI, organisasi tempat berkumpulnya orang-orang profesional bertugas mengembangkan kemampuan anggotanya,” kata jurnalis senior ini.

Editor : Zen Teguh