Kisah Brigjen TNI Iwan Setiawan, Jenderal Bintang Satu Penakluk Puncak Everest

Rizki Maulana ยท Jumat, 26 Juni 2020 - 22:22 WIB
Kisah Brigjen TNI Iwan Setiawan, Jenderal Bintang Satu Penakluk Puncak Everest

Danrem 173/Praja Vira Braja Brigjen TNI Iwan Setiawan menceritakan pengalamannya saat mendaki Everest, puncak tertinggi di dunia dalam ekspedisi Kopassus pada 1997, Jumat (26/6/2020). (Foto-foto: Dispenad).

JAKARTA, iNews.id – Laporan Korps Kenaikan Pangkat 74 Perwira Tinggi TNI AD di Mabesad, Jakarta pada Kamis (11/6/2020) lalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi Brigjen TNI Iwan Setiawan. Danrem 173/Praja Vira Braja (Biak) ini resmi menyandang pangkat jenderal bintang satu.

Iwan tampak terharu. Terlebih pada upacara itu, Mabesad menampilkan video perjalanan karier masing-masing pati yang naik pangkat. Dia pun bersyukur diberikan kepercayaan oleh TNI dan KSAD Jenderal Andika Perkasa untuk memimpin Korem 173/PVB.

Iwan merupakan lulusan Akademi Militer 1992. Awal kariernya dibangun di Korps Baret Merah. Prajurit kelahiran Bandung ini antara lain pernah menjabat sebagai Danyon 22 Grup 2 Kopassus pada 2018. Di korps ini pula sebuah catatan gemilang pernah diukirnya.

Masih ingat Ekpedisi Everest 1997? Ekspedisi pendakian ke puncak gunung tertinggi di dunia yang digagas Danjen Kopassus saat itu, Mayjen TNI Prabowo Subianto, bukan hanya mengharumkan nama Kopassus dan TNI, namun juga Indonesia di mata dunia.

Iwan merupakan satu di antara tiga prajurit Kopassus yang berhasil menancapkan Bendera Merah Putih di puncak Everest. Iwan yang saat itu berpangkat letnan satu menjejakkan kaki di atap dunia bersama Sertu Misirin dan Pratu Asmujiono.

Iwan mengenang perjalanan misi mahaberat tersebut. Namun demi bangsa dan negara, pantang baginya surut sebelum tugas terselesaikan.

“Mendaki Gunung Everest adalah impian setiap pendaki di dunia. Dan saat itu saya belum tahu, apa itu Mount Everest. Bayangkan, naik gunung saja belum pernah, terutama gunung es,” kata Iwan dalam wawancara dengan tim Dispenad di akun resmi Youtube TNI AD, Jumat (26/6/2020).

Dia menceritakan, ketika itu dirinya baru lulus pendidikan komando, masih muda. Tak lama diumumkan adanya seleksi Tim Ekspedisi Everest 97. Ekspedisi ini untuk menyambut HUT ke-45 Kopassus.

Bagi prajurit Kopassus, kata Iwan, tugas merupakan segala-galanya. Tugas merupakan kehormatan. Begitu pula Ekspedisi Everest tersebut. Dia mengikuti seleksi.

“Dan alhamdulillah, saya menjadi salah satu perwira akmil (akademi militer) yang lolos dan lulus untuk ikut ekspedisi pendakian ini,” ucapnya.

Iwan menyadari, bergabung dengan Tim Ekspedisi Everest sama dengan bertaruh nyawa. Dia menggambarkan, dari 100 pendaki yang ingin menggapai gunung setinggi 8.884 meter dari permukaan laut itu, kemungkinan hanya 10 orang yang sampai. Dari 10 tersebut, kemungkinan tiga orang yang selamat.

Ada kisah menarik sebelum dia berangkat mengikuti ekspedisi tersebut. Kepada Danjen Kopassus, dia izin menyunting pujaan hatinya. Oleh Prabowo, dia diberikan izin.

Istri Iwan, Betty Siti Supartini, turut mengenang bagaimana awal suaminya mengikuti persiapan panjang sebelum menuju Everest. Keikutsertaan suami tak dimungkiri membawa kecemasan tersendiri.

“Setelah menikah, sebulan-dua bulan berikutnya, saya ikut ke Cijantung (markas Kopassus di Jakarta). Saya sudah hamil. Saya waktu itu sempat (merasa), aduh ini (bagaimana), kalau suami saya tidak kembali, anak ini tidak ada bapaknya,” tutur Betty, mendamping Iwan.

Wajar dirinya merasa cemas. Jelang keberangkatan tim Kopassus, dirinya sempat menonton tayangan ekspedisi suatu negara ke Everest. Dalam tayang itu disebutkan ada anggota ekspedisi yang meninggal dunia. Gambaran itu yang membuat dirinya semakin khawatir.

Putaran waktu terus berjalan. Tim Ekspedisi Kopassus akhirnya menginjak Nepal untuk memulai pendakian. Iwan terkenang bagaimana beratnya masa-masa awal berhadapan langsung dengan gunung es. Dia sempat jatuh sakit.

“Saya baru berjalan 100 meter muntah-muntah, kaget, karena memang tidak siap dengan cuaca dingin. Rupanya istri ikut merasakan (kalau saya sakit),” ucapnya.

Namun tentu saja Iwan pantang mundur. Sebagai satu-satunya perwira Akmil yang memimpin tim sekaligus tumpun harapan Kopassus dan bangsa Indonesia untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di puncak Everest, dia terus menguatkan semangat.

Mantan Danrindam Jaya ini meyakini, doa istri yang rajin puasa senin-kamis, juga doa seluruh bangsa, dirinya sembuh. Iwan pun melanjutkan perjalanan mengarungi medan berat dengan suhu minus 50 derajat Celcius.

Untuk diketahui, dalam ekspedisi ini Tim Kopassus terbagi dalam dua kelompok pendakian, yakni jalur utara dan selatan. Iwan memimpin tim di jalur selatan.

“Bayangkan suhu minus 50 derajat Celcius. Sepanjang jalan banyak orang-orang meninggal,” ucapnya.

Mendaki Everest ibarat pertaruhan hidup dan mati. Di ketinggian 8.500 meter dari permukaan laut, Iwan terjatuh kehabisan oksigen. Momen itu menjadi saat-saat kritis.

Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua