Kisah Ety Hafalkan Alquran 30 Juz saat Dipenjara 18 Tahun di Arab Saudi

Abdul Rochim ยท Senin, 06 Juli 2020 - 21:06 WIB
Kisah Ety Hafalkan Alquran 30 Juz saat Dipenjara 18 Tahun di Arab Saudi

Ety binti Toyyib Anwar disambut Menaker Ida Fauziyah dan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/7/2020). (Foto: Sindonews/Abdul Rochim).

JAKARTA, iNews.id – Raut wajahnya datar. Tidak terlihat ada gurat kesedihan di paras Ety binti Toyyib Anwar, warga Desa Cidadap, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat saat tiba di Ruang VIP Terminal III Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/7/2020) pukul 17.30 WIB.

Tidak tampak pula keceriaan berlebihan. Ety yang mengenakan pakaian serba hitam dengan masker berjalan pelan menemui sejumlah tamu di Ruang VIP.

Di sana sudah menunggu Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah, Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid, Wakil Ketua dan Anggota Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh dan Anggia Ermarini, Anggota Komisi V Ning Eem Marhamah, dan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdhani.

”Terima kasih banyak,” ungkap Ety sambil mengatupkan tangan sebagai tanda salam kepada para elite politik yang menunggu. Dia lantas duduk di samping Menaker. Rasa terima kasih kembali diungkapkan dengan nada pelan kepada Presiden Joko Widodo.

”Kepada Bapak Presiden, kepada Ibu Negara, kepada semuanya. Saya sudah gak tahu anak-anak saya. Mudah-mudahan apa-apa dibalas oleh Allah,” katanya.

Ety belum tahu apa rencana yang akan dilakukan. Apalagi, setelah ini dia masih harus menjalani karantina selama 14 hari lagi sebelum pulang ke kampung halaman.

Untuk pertama kalinya dia kembali menginjakkan kaki di Tanah Air. Selama ini Ety mengadu nasib di Arab Saudi. Nasih pahit dialaminya. Selama 18 tahun terakhir dia hanya bisa menghabiskan waktu di penjara.

Ety mengaku tidak menyesal atas apa yang dialaminya. Justru, dia mengaku mengambil hikmah dari takdir yang harus dijalani. Salah satunya, bersyukur karena selama menjalani tahanan bisa mempelajari Alquran dan hadist hingga akhirnya mampu menghafalkan Alquran 30 juz dan sejumlah hadits.

“Kepada semua yang membantu saya, semoga ini menjadi jalan menuju surga,” tutur perempuan yang mendekam di penjara sejak usia 35 tahun pada 2002 silam.

Meski harus menjalani hidup di tahanan selama 18 tahun dan hanya sempat bekerja selama 1 tahun 8 bulan, hingga kini Eny bersikukuh bersalah karena tidak membunuh majikannya seperti yang didakwakan. Dia menegaskan tidak pernah melakukan kejahatan yang dituduhkan padanya.

“Ya nggak, saya nggak merasa bersalah. Nanti Allah yang menjawab itu untuk semuanya. Saya nggak merasa bersalah. Tapi mungkin dosa saya yang menghukum saya. Nggak ada yang disalahkan. Mungkin itu kesesatan saya,” katanya.

Ety pun menceritakan awal mula peristiwa sebelum majikannya meninggal dunia. Sang majikan, kata dia, saat itu pergi ke Jeddah naik mobil. Pada pagi harinya dia sarapan bersama istri dan malam makan di restoran. Lalu tiba-tiba dirinya dituduh telah meracuni majikannya yang ditemukan tewas.

Dia mengaku hanya korban atas tuduhan pembunuhan tersebut. ”Iya dituduh. Alhamdulillah saya nggak ngelakuin. Insya Allah besok lusa, kapan, ada jawabannya dari Allah,” katanya.

Kendati begitu, Ety mengaku tidak terbesit sedikitpun dendam di hatinya. Dia kini hanya ingin menikmati kegembiraan bisa kembali menginjakkan kaki ke Tanah Air yang sudah ditinggalkannya selama 20 tahun.

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid yang menjemput Ety di bandara, mengaku bersyukur bahwa salah seorang warga negara Indonesia berhasil dipulangkan.

Jazilul mengatakan, setelah proses yang begitu panjang dan berbelit, Ety akhirnya bisa bebas dari hukuman mati setelah Pemerintah Indonesia dengan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan PKB, membayarkan diyat yang diminta keluarga majikan.

“Alhamdulillah, hari ini memang kita saksikan satu nyawa warga negara Indonesia berhasil pulang. Karena memang satu jiwa ini sangat berharga, tidak ada harganya. Ini hukum di Arab Saudi menentukan siapapun yang divonis mati atau pembunuhan maka kena qishash, yakni hukum nyawa dengan nyawa. Namun, ada solusinya yakni dengan membayar diyat (uang darah) sebagai denda,” ujar dia.

Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2 Tampilkan Semua