Kisah Inspiratif Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang yang Berhasil Masuk UGM
JAKARTA, iNews.id - Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Muhammad Nur Arifin meraih mimpinya. Anak keenam dari sembilan bersaudara yang dibesarkan seorang ibu penjual keripik pisang itu berhasil lolos ke Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Arifin berhasil lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 dan memperoleh beasiswa pendidikan bersubsidi 100 persen. Ia mengaku tidak menyangka dapat diterima di prodi ilmu peternakan UGM.
Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun, kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya yakin memilih Fakultas Peternakan UGM.
“Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ucap dia dikutip dari laman resmi UGM, Minggu (2/8/2026).
Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan.
Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangga yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar.
Dalam kesehariannya, ia bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang.
“Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya.
Sementara itu, sang ibu bernama Ngalimah menuturkan di tengah berbagai keterbatasan, Arifin selalu menunjukkan prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Padahal, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan.
“Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah,” kenang Ngalimah.
Editor: Puti Aini Yasmin